Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tahun Ini Sudah Ada 341 Kasus Baru Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Kaltim, Ini Penyebabnya…

Jufriadi • Selasa, 13 Mei 2025 | 18:03 WIB
KASUS TINGGI: Arifatul Fauzi saat melakukan peninjauan di Ruang Bermain Ramah Anak di Kutim, Selasa (13/5). (FOTO JUFRIADI/KP)
KASUS TINGGI: Arifatul Fauzi saat melakukan peninjauan di Ruang Bermain Ramah Anak di Kutim, Selasa (13/5). (FOTO JUFRIADI/KP)

KALTIMPOST.ID-Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Fauzi mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kaltim.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), tercatat sebanyak 1.026 kasus terjadi sepanjang tahun 2024. Sementara hingga Mei 2025, sudah tercatat 341 kasus baru.

“Untuk Kaltim, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak cukup tinggi,” beber Arifatul, dalam kunjungannya di Kutim, Selasa (13/5).

Menurutnya, ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebab maraknya kasus kekerasan, yang berhasil dihimpun dari hasil kunjungan langsung ke lapangan dan analisis sementara kementerian.

Salah satunya adalah pola asuh dalam keluarga yang dinilai sudah sangat berbeda dibandingkan masa lalu.

“Pola asuh sekarang sudah jauh berbeda dengan saat kita kecil dulu. Tantangannya berubah, pengaruh dari luar juga makin kuat. Ini berdampak pada tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Dia menyoroti penggunaan media sosial yang tidak bijak, baik oleh anak-anak maupun orang tua. Arifatul menyebut, kecanduan gadget kini bukan hanya dialami anak, tetapi juga orang tua, yang justru seharusnya menjadi panutan.

“Sekarang bukan cuma anak yang kecanduan terhadap gadget, tapi orangtuanya juga. Itu sangat berpengaruh terhadap pola komunikasi dan perhatian dalam keluarga,” tambahnya.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi itu adalah rendahnya kepedulian lingkungan sekitar. Dia menilai, saat ini masyarakat cenderung abai terhadap persoalan kekerasan yang terjadi di sekitar mereka.

“Kami temui di beberapa kasus, masyarakat mulai menipis kepeduliannya. Padahal, peran lingkungan sangat penting dalam pencegahan,” tegas Arifatul.

Kementerian PPPA terus mendorong edukasi, kolaborasi lintas sektor, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekaligus menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi generasi penerus bangsa. (jfr/rd)

 

JUFRIADI

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #Arifatul Choiri Fauzi #kutai timur #kekerasan anak dan perempuan #Kutai Barat