SANGATTA — RSUD Kudungga Kutim mulai melakukan persiapan menghadapi potensi kasus Covid-19, menyusul kembali ditemukannya kasus positif di Kaltim. Saat ini, dua pasien RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda terkonfirmasi Covid-19, salah satunya ber-KTP Kutim.
Direktur RSUD Kudungga, dr. Muhammad Yusuf mengatakan, pihak rumah sakit telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif, meskipun status Covid-19 kini telah ditetapkan sebagai endemi.
“Untuk pemetaan ruangan itu sudah kita lakukan untuk jadi kamar isolasi seandainya ada pasien. Kemudian dokter spesialis yang terkait dengan Covid juga sudah siap, sewaktu-waktu dibutuhkan,” ungkap Yusuf, Selasa (10/6).
Namun, kendala utama saat ini ada pada ketersediaan alat tes. Yusuf menyebutkan bahwa stok antigen dan reagen PCR di RSUD Kudungga sudah kedaluwarsa sejak akhir 2022. Pengadaan alat baru sedang diupayakan, namun belum tersedia di pasaran.
"Jadi baik untuk antigen kita masih kosong karena dulu sudah expired semua tuh bekas Covid yang tahun 2022. PCR antigennya juga masih ada tapi sudah expired. Sudah tidak bisa digunakan lagi," tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini belum ada prosedur khusus yang diberlakukan di RSUD Kudungga. “Cuma kita berpesan kepada spesialis saja. Kalau nanti misalnya alat sudah datang, Mungkin mereka bisa mempertimbangkan kalau ada gejala-gejala pasien yang mereka rawat yang mengarah ke Covid,” terangnya.
Yusuf juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada. Apalagi, kasus yang ditemukan di RSUD AWS Samarinda pun sebagian besar pasien datang dengan penyakit bawaan, bukan murni akibat Covid-19.
"Memang itu setahu saya dua pasien itu kondisinya bukan cuman karena Covidnya ya. Memang penyakit yang diderita ‘tuh kemudian kebetulan juga ada infeksi Covid. kita boleh waspada tapi tidak panik ‘lah," lanjutnya.
Sementara itu, edukasi bagi tenaga kesehatan telah diperkuat. Yusuf mengimbau pegawai untuk tetap disiplin dalam penggunaan masker, menjaga etika batuk dan bersin, serta tidak bekerja saat sedang sakit.
“Kita tetap edukasi pegawai, kita itu pasien kita untuk selalu pakai masker, terutama kalau lagi kondisinya kurang fit. Ada gejala demam, ada gejala batuk, itu kita sarankan tidak kerja dulu. Kalaupun memang sangat terpaksa harus datang bekerja harus menggunakan masker,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan soal varian baru yang beredar.
“Untuk mendeteksi varian apa yang beredar di Kaltim. Nah, itu pemeriksaan terdekat kalau tidak salah dengar kemarin itu di Banjarbaru. Laboratorium itu memeriksa varian apa yang beredar di Kaltim,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan