Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Enam Manusia Jalanan di Sangatta Kutim Terjaring Razia, Ini yang Dilakukan Satpol PP…

Jufriadi • Kamis, 17 Juli 2025 | 17:42 WIB
Satpol PP Kutim menertibkan gepeng, anjal, badut dan pengamen jalanan di Sangatta, Kutim, Kamis (17/7).
Satpol PP Kutim menertibkan gepeng, anjal, badut dan pengamen jalanan di Sangatta, Kutim, Kamis (17/7).

KALTIMPOST.ID-Meski razia kerap digelar, fenomena gelandangan, pengemis (gepeng), badut jalanan, dan pengamen masih mudah ditemui di sejumlah ruas jalan di Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim).

‎‎Terbaru, Satpol PP Kutim kembali menjaring enam orang dalam operasi penertiban yang digelar sejak pagi, Kamis (17/7).

‎Dua orang di antaranya adalah badut jalanan yang biasa mangkal di lampu merah, seorang pengamen, serta tiga lainnya merupakan gepeng.

Mereka terjaring saat sedang beraktivitas di jalan dan langsung diamankan ke kantor Satpol PP.

‎“Penertiban itu bagian dari komitmen kami mewujudkan ketertiban umum, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat, serta menjamin keselamatan pengguna jalan,” ujar Kepala Satpol PP Kutim Fatah Hidayat.

Fenomena itu menurutnya bukan hanya soal estetika kota, melainkan juga menyangkut keamanan.

Keberadaan manusia jalanan sering menimbulkan risiko kecelakaan lalu lintas atau konflik sosial di jalan.

‎Setelah diamankan, seluruh individu yang terjaring langsung diserahkan ke Dinas Sosial (Dissos) Kutim untuk penanganan lebih lanjut.

Fatah memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas terkait agar penanganan tidak berhenti di razia.

‎“Tadi saya langsung hubungi Pak Kepala Dinas Sosial terkait hasil penertiban, dan Dissos siap menerima berapa pun jumlahnya,” tegasnya.

‎Kepala Dissos Kutim Ernata Hadi Sujito menyampaikan pihaknya memiliki mekanisme pembinaan melalui rumah perlindungan sosial (RPS).

Tempat itu disiapkan sebagai wadah sementara bagi manusia jalanan yang terjaring dalam razia.

‎“Berapapun hasil razia dari Satpol PP selalu kami tampung semuanya. Kami masukkan ke RPS. Di sana kami beri pembinaan. Diberi makan tiga kali sehari. Kami tanggung kesehatannya juga,” kata Ernata.

‎Ia menambahkan pendekatan di RPS bersifat individual. Bagi remaja atau usia produktif, Dissos akan mengarahkan ke pelatihan sesuai minat, agar mereka bisa mencari penghasilan secara lebih bermartabat.

‎“Untuk remaja juga nanti kami arahkan, supaya tidak mengemis lagi. Apa keahlian dia, pelatihan apa, kita salurkan,” lanjutnya.

‎Sementara itu, untuk lansia, Ernata menyebut akan dialihkan ke panti jompo jika memang tak punya keluarga atau tidak bisa mandiri.

‎“Orang tua itu ‘kan hanya perlu makan, kesehatan, dan pakaian. Jadi kami tempatkan di panti jompo agar keperluannya terpenuhi,” jelasnya.

‎Namun demikian, masa tinggal di RPS dibatasi hanya selama sepekan. Setelah itu, mereka yang memerlukan penanganan lanjutan akan diarahkan ke lembaga sosial.

‎“SOP-nya satu minggu. Setelah itu, kalau masih perlu pendampingan, kami kirim ke panti asuhan di Samarinda,” pungkasnya. (rd)

 

‎JUFRIADI

Editor : Romdani.
#Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman #kutai timur #pemkab kutim #berita viral #melanie putri