Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Di Tengah Kejayaan Tambang di Kutim, Warga Sandaran Bergelut Tanpa Listrik PLN dan Air Bersih

Jufriadi • Rabu, 10 September 2025 | 19:13 WIB

 

SERBA TERBATAS: Beberapa desa di Kecamatan Sandaran, Kutai Timur hingga kini belum merasakan layanan listrik PLN dan air bersih dari pemerintah.
SERBA TERBATAS: Beberapa desa di Kecamatan Sandaran, Kutai Timur hingga kini belum merasakan layanan listrik PLN dan air bersih dari pemerintah.

SANGATTA - Di balik kejayaan industri pertambangan di Kutai Timur (Kutim), tersimpan kondisi memilukan. Layanan listrik dan air bersih, yang merupakan dua kebutuhan dasar penting untuk menunjang kualitas hidup masyarakat, sampai saat ini belum benar-benar dirasakan oleh warga beberapa desa di Kecamatan Sandaran.

Warga setempat, Ebed Sidabutar, menyebut setidaknya ada tiga desa di Kutai Timur (Kutim) yang hingga kini belum menikmati layanan listrik PLN maupun air bersih dari pemerintah, yaitu Desa Susuk Dalam, Susuk Luar, dan Susuk Tengah.

Ia menjelaskan, selama ini masyarakat hanya mendapatkan listrik selama lima jam melalui genset yang disediakan pemerintah desa, menyala mulai pukul 18.00 hingga 23.00. Sementara itu, untuk kebutuhan air bersih, warga masih mengandalkan air hujan dan air resapan.

"Masyarakat masih tergantung pada air hujan dan air resapan. Untuk listrik masih berjibaku andalkan genset desa yang mulai menyala dari jam 18.00 sampai dengan jam 23.00," ujarnya, Rabu, (10/9).

Menurut Ebed, ketiga desa tersebut masih termasuk kategori desa tertinggal di Kutim. Ia berharap pemerintah segera memberikan akses listrik dan air bersih yang memadai bagi masyarakat.

"Harapannya, kita mohon agar pemerintah segera realisasikan pengadaan PLN dan PDAM," lanjutnya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menyatakan pihaknya akan mendorong pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga di wilayah tersebut. Menurutnya, pelayanan air minum melalui PDAM kerap terkendala oleh pasokan listrik, terutama di daerah yang jauh dari pusat layanan.

“Kami mendorong agar PDAM dapat menemukan solusi untuk melayani masyarakat di wilayah terpencil. Salah satunya dengan memanfaatkan energi alternatif, seperti solar cell, untuk mengoperasikan pompa air,” ujar Jimmi.

Ia menambahkan, penggunaan energi alternatif ini dianggap lebih efisien dari sisi ekonomi dibandingkan harus mengandalkan genset konvensional. Meski biaya awal pembangunan infrastruktur solar cell mungkin relatif tinggi, langkah ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang belum teraliri listrik dan air bersih.

“Harapannya, solar cell dapat menjadi alternatif yang dapat mengatasi kendala listrik sekaligus mendukung kelancaran distribusi air bersih di desa-desa tersebut,” kata Jimmi.

Editor : Muhammad Ridhuan
#pdam #air bersih #Kecamatan Sandaran #kutai timur #pln #listrik