Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Cabai Mulai Bergejolak Jelang Nataru, Pemkab Kutim Pastikan Stok Aman

Jufriadi • Jumat, 19 Desember 2025 | 16:32 WIB
PANTAU LANGSUNG: Inspeksi mendadak Pemkab Kutai Timur di Pasar Induk Sangatta Utara untuk memantau harga dan ketersediaan bahan pokok jelang Natal dan Tahun Baru, Jumat (19/12).
PANTAU LANGSUNG: Inspeksi mendadak Pemkab Kutai Timur di Pasar Induk Sangatta Utara untuk memantau harga dan ketersediaan bahan pokok jelang Natal dan Tahun Baru, Jumat (19/12).

KALTIMPOST.ID, SANGATTA — Menjelang puncak arus belanja Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memantau pergerakan harga dan ketersediaan bahan pokok.

Inspeksi mendadak dilakukan di Pasar Induk Sangatta Utara, Toko Pulau Emas selaku agen beras, serta SPBU Jalan Yos Sudarso II, Jumat (19/12).

Hasil pemantauan menunjukkan stok pangan relatif aman. Namun, pemerintah mencatat adanya gejolak harga pada komoditas cabai rawit merah yang mulai terasa.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadani, mengatakan sidak dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang lazim terjadi setiap akhir tahun.

Menurutnya, dari sisi ketersediaan, masyarakat tidak perlu khawatir. “Barangnya ada. Masyarakat tidak perlu khawatir soal ketersediaan,” ujar Nora.

Meski demikian, harga cabai menjadi perhatian.  Harga per 18 Desember 2025, cabai rawit merah sempat melonjak dari Rp60 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram. Sehari kemudian, harga terkoreksi ke level Rp70 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit hijau justru mengalami kenaikan dari Rp100 ribu menjadi Rp120 ribu per kilogram. Kendati masih tinggi, pemerintah menilai fluktuasi tersebut masih dalam batas wajar.

“Dibandingkan tiga bulan yang lalu, harga rawit hijau mencapai Rp150 ribu per kilo, karena kelangkaan stok,” kata Nora.

Kepala Bagian Perekonomian Setkab Kutim, Vita Nurhasanah, menjelaskan pergerakan harga cabai rawit saat ini dipengaruhi oleh perubahan struktur pasokan.

Cabai yang beredar di Pasar Induk Sangatta Utara kini didominasi produksi lokal, sementara pasokan dari luar daerah berkurang.

Kondisi tersebut, lanjut dia, sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah yang mendorong kemandirian pangan berbasis produksi lokal. Pemerintah memilih menjaga keberlanjutan petani cabai, meski konsekuensinya harga tidak selalu murah.

“Cabai yang beredar di Kutai Timur adalah hasil petani lokal. Kalau pasokan lokal kuat, petani sejahtera dan ketersediaan jangka panjang lebih terjamin,” ujarnya.

Untuk menjaga kesinambungan pasokan, pemerintah daerah melalui dinas teknis telah menyalurkan bantuan bibit cabai kepada petani.

Pola tanam diupayakan agar masa panen bertepatan dengan periode rawan lonjakan permintaan, seperti Nataru, Imlek, Ramadan, hingga Idul Fitri.

Selain cabai, pemerintah juga memastikan stabilitas harga beras. Di Pasar Induk Sangatta Utara, harga beras medium tercatat di kisaran Rp14.600 hingga Rp15.600 per kilogram. Sementara beras SPHP Bulog dijual Rp13.000 per kilogram, masih sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Meski begitu, pemerintah mencatat adanya tekanan biaya distribusi yang dikeluhkan agen beras, mengingat Kutim masih bergantung pada pasokan luar daerah, khususnya Pulau Jawa dan Sulawesi.

“Kami tidak mungkin membiarkan pengusaha menjual dengan rugi. Tapi prinsipnya tetap, acuan harga harus sesuai HET,” tegas Vita.

Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak guna menjaga stabilitas pasokan dan harga selama periode Nataru. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#natal dan tahun baru #pergerakan harga #pantau #ketersediaan bahan pokok #kutai timur