SANGATTA – Jalan rusak berlubang dan kubangan air masih menjadi pemandangan sehari-hari bagi masyarakat Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim). Kondisi ini dikeluhkan warga karena kerap mengganggu aktivitas, terutama saat hujan turun.
Kerusakan jalan terpantau di sejumlah titik, di antaranya Jalan Ahmad Yani dengan sedikitnya enam titik kerusakan, serta Jalan Pahlawan dengan dua titik. Saat hujan, lubang-lubang tersebut berubah menjadi kubangan air yang berbahaya bagi pengguna jalan.
Keluhan itu disampaikan salah seorang pemuda Muara Wahau, Abdullah Mubarak. Ia mengatakan, kerusakan jalan sudah berlangsung cukup lama dan belum ada perbaikan permanen dari pemerintah.
“Kalau dari luar kelihatan mulus, tapi begitu masuk wilayah SP2, SP1, sampai SP4, jalannya banyak yang hancur. Lubangnya parah, apalagi kalau hujan jadi kubangan,” ujar Abdul, Jumat (9/1).
Abdullah menjelaskan, jalan tersebut merupakan jalur aktif yang digunakan masyarakat, kendaraan angkutan hasil perkebunan sawit, hingga jalur lintas provinsi menuju Kabupaten Berau. Padatnya lalu lintas dinilai mempercepat kerusakan, terlebih drainase di kiri-kanan jalan tidak memadai.
“Kiri-kanan jalan tidak ada parit, jadi air tergenang dan aspal cepat terkikis,” jelasnya.
Karena belum ada perbaikan permanen, sejumlah pihak melakukan penimbunan secara swadaya. Beberapa perusahaan swasta disebut turut membantu dengan menyumbang material dan alat berat.
“Ada perusahaan yang membantu alat berat. Komunitas sopir truk juga ikut menimbun, bekerja sama dengan kepolisian,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara. Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan solusi jangka panjang agar kerusakan tidak terus berulang. “Masalahnya bukan cuma bisa dilalui. Masa setiap jalan rusak harus swadaya masyarakat terus?” ujarnya.
Abdullah menyebut, perbaikan terakhir yang ia ingat terjadi sekitar 2023. Setelah itu, tidak ada lagi informasi lanjutan terkait pemeliharaan atau revitalisasi jalan. Isu pelebaran jalan juga disebut pernah muncul, namun belum terealisasi.
“Kalau memang ada rencana perbaikan atau proyek, seharusnya disosialisasikan. Jangan tiba-tiba proyek, warga tidak tahu apa-apa,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah lebih serius menindaklanjuti persoalan infrastruktur dasar di Muara Wahau, mengingat wilayah tersebut dikelilingi aktivitas perkebunan dan memiliki kontribusi ekonomi yang besar.
“Miris sebenarnya. Daerah ini dekat dengan perusahaan besar, sawit dan tambang juga ada. Harusnya kesejahteraan dan infrastruktur dasar seperti jalan bisa lebih diperhatikan,” pungkasnya. (jfr/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan