KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Akses utama yang menghubungkan Sangatta dan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terus berada dalam kondisi rawan akibat longsor yang menggerus badan Jalan Poros Sangatta–Bengalon. Di sejumlah titik, jalan nasional tersebut kini hanya dapat dilalui satu lajur kendaraan.
Situasi itu berdampak langsung pada kelancaran arus lalu lintas. Kendaraan dari dua arah terpaksa bergantian melintas dengan pengaturan seadanya oleh pengguna jalan. Truk logistik, kendaraan pribadi, hingga angkutan umum harus mengantre, terutama pada jam sibuk.
Kerusakan badan jalan ini terjadi pada titik-titik yang sudah lama mengalami penurunan tanah. Saat hujan turun, sisa badan jalan yang masih bisa dilalui semakin rentan terkikis, sehingga memperbesar risiko terputusnya akses penghubung antarwilayah.
Sejumlah pengguna jalan menilai kondisi tersebut tidak sebanding dengan status jalan yang merupakan jalan nasional. Bonar, warga Bengalon yang rutin melintas di jalur tersebut, mengatakan penanganan yang dilakukan selama ini bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.
“Sudah lama kondisinya seperti ini. Hanya dipasang rambu, sementara jalannya makin menyempit. Kalau malam hari sangat berisiko karena minim penerangan,” ujarnya, Jumat (16/1).
Jalan Poros Sangatta–Bengalon memiliki peran penting sebagai jalur distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Tingginya volume kendaraan, termasuk kendaraan bertonase besar, membuat keberadaan satu lajur aktif dinilai tidak ideal untuk jangka panjang.
Meski kewenangan perbaikan berada di pemerintah pusat melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), hingga awal 2026 belum terlihat penanganan permanen pada titik-titik longsor yang dinilai kritis.
Kaltim Post telah berupaya melakukan konfirmasi kepada BPJN Kalimantan Timur terkait kondisi jalan tersebut sejak Senin (12/1). Namun hingga berita ini diturunkan, BPJN belum memberikan keterangan resmi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pemerintah daerah bersama DPRD Kutim telah beberapa kali menyampaikan hal ini kepada pemerintah pusat. Namun, hingga kini kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan berarti.
Warga berharap penanganan segera dilakukan untuk mencegah risiko kecelakaan dan memastikan jalan itu tetap dapat dilalui. (*)
Editor : Duito Susanto