SANGATTA – Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat sebanyak 422 orang terindikasi HIV/AIDS dan saat ini masuk dalam pendampingan. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan laki-laki, yakni 274 orang, sementara perempuan tercatat sebanyak 148 orang.
Ratusan kasus tersebut berasal dari beragam kelompok risiko. Data KPAD Kutim menunjukkan, kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) mencapai 119 orang. Selain itu, terdapat tiga orang waria, satu orang pensiun, 17 wanita pekerja seks langsung (WPSL), serta lima wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL).
Tak hanya itu, kelompok pelanggan juga mendominasi data pendampingan. Tercatat 59 orang merupakan pelanggan WPSL dan lima orang pelanggan WPSTL. Sementara pasangan suami istri menjadi kelompok terbanyak dengan total 200 orang. Adapun kategori lainnya berjumlah 13 orang.
Kepala Pengelola Penanggulangan AIDS KPAD Kutim, Lisda Anggraini, menyebut kelompok LSL menjadi salah satu yang paling sulit dijangkau dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS. Hal ini lantaran mereka tidak memiliki ciri sosial yang mudah dikenali.
“Kalau LSL ini susah kita menjangkau dunia mereka, tidak sembarangan. Kalau waria kita tahu di mana tempatnya,” ujar Lisda.
Dikatakannya, berdasarkan hasil pendampingan, sebagian klien menjalani hubungan sesama jenis secara tertutup, namun tetap berinteraksi dalam kehidupan rumah tangga seperti biasa.
Meski demikian, Lisda menegaskan fokus utama KPAD Kutim adalah memutus rantai penularan HIV/AIDS, bukan melakukan penilaian terhadap perilaku individu. Upaya dilakukan saat ini adalah sosialisasi dengan jemput bola melalui penjangkau yang masuk langsung ke komunitas kelompok berisiko.
Penjangkauan dilakukan terhadap berbagai kelompok, mulai dari LSL, waria, wanita pekerja seks langsung dan tidak langsung, hingga pelanggan. Para penjangkau telah dibekali pelatihan khusus agar mampu menyampaikan edukasi pencegahan secara tepat dan profesional.
Namun, keterbatasan sumber daya menjadi persoalan utama. Saat ini, KPAD Kutim hanya memiliki satu orang penjangkau aktif di lapangan.
“Makanya kebutuhan kami, tenaga lapangan perlu dipertanyakan. Karena cuman satu tenaganya. Itu faktanya,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan