Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

16 Titik Rawan Longsor di Jalan Poros Sangatta–Bengalon, BPJN Siapkan Anggaran hingga Rp 5,5 Miliar Tahun Ini

Jufriadi • Selasa, 20 Januari 2026 | 05:30 WIB
Badan Jalan Poros Sangatta-Bengalon tergerus longsor dan menyisakan satu lajur kendaraan. (FOTO JUFRIADI/KP).
Badan Jalan Poros Sangatta-Bengalon tergerus longsor dan menyisakan satu lajur kendaraan. (FOTO JUFRIADI/KP).

KALTIMPOST.ID-Akses utama penghubung Sangatta–Bengalon di Kutai Timur (Kutim) masih berada dalam kondisi rawan akibat longsor yang menggerus badan Jalan Poros Sangatta–Bengalon.

Di sejumlah titik, jalan nasional tersebut kini hanya menyisakan satu lajur aktif sehingga kendaraan dari dua arah harus bergantian melintas.

Kondisi itu berdampak pada kelancaran arus lalu lintas, terutama pada jam sibuk. Truk logistik, kendaraan pribadi, hingga angkutan umum terpaksa mengantre dengan sistem buka-tutup yang diatur secara manual oleh pengguna jalan.

Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kaltim Viasmudji Bitticaca mengatakan penanganan longsoran di ruas tersebut telah menjadi prioritas dan akan dilaksanakan tahun ini.

“Karena ini aset jalan nasional, sudah kami usulkan dan disetujui. Penanganannya masuk prioritas dan akan dilaksanakan tahun ini,” ujarnya, Senin (19/1).

Untuk tahap awal, anggaran yang disiapkan diperkirakan sekitar Rp 5 miliar hingga Rp 5,5 miliar. Nilai tersebut masih bersifat estimasi karena proses kontrak belum berjalan.

“Perhitungan kami berdasarkan penanganan longsoran, rata-rata berkisar Rp 100 juta sampai Rp 150 juta per meter,” jelasnya.

Viasmudji menyebut, panjang longsoran prioritas yang akan ditangani sekitar 50 meter pada satu titik utama.

Namun secara keseluruhan, dari Sangatta hingga Simpang Perdauwi terdapat sekitar 16 titik rawan longsor dengan kategori berbeda.

“Ada longsoran minor yang masih bisa dilewati dan ada juga yang sifatnya prioritas karena sudah menggerus setengah badan jalan,” katanya.

Sambil menunggu pekerjaan utama, BPJN tetap melakukan penanganan preventif agar kerusakan tidak melebar, seperti pemasangan bronjong atau sandbag.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan akses jalan tetap terbuka dan lalu lintas tidak terputus.

“Yang penting kami pastikan lalu lintas tetap berjalan, meskipun harus satu arah dengan sistem buka-tutup,” tambahnya.

Terkait penyebab longsor, Viasmudji menyebut sejumlah faktor berpengaruh, mulai kondisi tanah yang relatif lunak, beban kendaraan bertonase berat hingga curah hujan ekstrem.

“Kondisi tanah di ruas itu memang tanah lunak, ditambah hujan ekstrem dan beban kendaraan. Itu kombinasi yang memicu longsoran,” pungkasnya.

BPJN menargetkan pekerjaan dapat mulai dilakukan setelah kontrak berjalan, paling lambat bulan depan. (rd)

 

JUFRIADI

Editor : Romdani.
#ibu kota nusantara #Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman #kutai timur #rawan longsor #Kutai Barat