SANGATTA – Seekor Orang Utan (Pongo pygmaeus) sempat terekam berada di pinggir jalan poros Kutai Timur (Kutim) beberapa pekan lalu. Satwa dilindungi itu terlihat berada di sekitar tumpukan sampah liar dan memakan sisa makanan. Individu itu kemudian diamankan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim pada Rabu (28/1/2026).
Peristiwa ini memicu reaksi dari kalangan aktivis lingkungan di Kutim. Fraksi Rakyat Kutim (FRK) menilai kemunculan orangutan yang mengais makanan di tempat sampah bukan insiden biasa.
Aktivis FRK, Erwin Febrian Syuhada, menyebut peristiwa tersebut merupakan indikator adanya tekanan ekologis yang berlangsung di kawasan itu. “Kasus orangutan yang terekam mengais makanan di tumpukan sampah liar di Bengalon bukanlah peristiwa kebetulan, apalagi sekadar ‘kejadian viral’. Ini adalah alarm keras dari krisis ekologis yang sedang kita biarkan berlangsung,” ujar Erwin dalam pernyataannya, Minggu (1/2).
Baca Juga: Orang Utan yang Terekam Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim Akhirnya Ditemukan, Begini Kondisinya...
Ia menyatakan orangutan tersebut tidak turun ke tepi jalan karena tersesat, melainkan akibat hilangnya ruang hidup yang terfragmentasi. “Orangutan tidak ‘tersesat’ ke tepi jalan. Ia didorong keluar dari ruang hidupnya oleh hutan yang terus terfragmentasi, dibelah tambang batu bara, perkebunan sawit, dan pembiaran tata ruang yang gagal melindungi lanskap penting satwa liar,” katanya.
Erwin menjelaskan hilangnya sumber pakan alami membuat tempat sampah manusia menjadi pilihan terakhir bagi satwa. “Ketika hutan hilang dan sumber pakan musnah, maka tempat sampah manusia menjadi pilihan terakhir. Sebuah ironi yang memalukan bagi peradaban yang mengaku beradab,” ucapnya.
Ia mengapresiasi langkah cepat BKSDA Kaltim dan mitra konservasi yang telah mengevakuasi dan mentranslokasi orangutan tersebut ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Namun menurutnya, penanganan satu individu tidak boleh mengaburkan kerusakan yang terjadi secara struktural.
Baca Juga: Orang Utan Terekam Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim, BKSDA Lakukan Penelusuran
“Harus ditegaskan, penyelamatan individu tidak boleh menutup mata dari kejahatan struktural yang terus merusak habitatnya,” tegasnya. Selain persoalan habitat, Erwin menyoroti keberadaan sampah liar di kawasan hutan yang dapat memengaruhi perilaku satwa.
“Membuang sampah makanan di kawasan habitat satwa liar adalah tindakan berbahaya. Sampah mengubah perilaku alami orangutan, membuatnya kehilangan sifat liarnya, dan mendorong konflik yang pada akhirnya sering berujung pada kematian satwa,” ujarnya.
Ia juga menyerukan penghentian sementara aktivitas pembukaan lahan di sekitar jalur jelajah Orang Utan di Bengalon serta perlindungan kawasan meta populasi sebagai wilayah bernilai ekologis tinggi. Selain itu, ia menekankan perlunya transparansi data AMDAL dan pengawasan independen terhadap berbagai aktivitas ekstraktif di bentang alam Bengalon hingga Busang.
Baca Juga: Heboh Video Viral Diduga Perburuan Orang Utan, BKSDA Kaltim Ungkap Kebenarannya...
Erwin menegaskan bahwa kemunculan orangutan di jalan maupun di tumpukan sampah tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bukti bahwa satwa tersebut menjadi korban dari model pembangunan yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekologis.
"Jika orangutan terus dipaksa turun ke jalan dan tempat sampah, maka sesungguhnya yang sedang tersesat bukan mereka, melainkan kita sebagai manusia yang kehilangan arah moral dalam mengelola alamnya,"
Kemunculan orangutan di area jalan poros bukan kali pertama terjadi. Pada 11 Desember 2025, warga juga sempat dihebohkan dengan rekaman seekor orangutan yang melintas di Jalan Poros Bengalon–Kaliorang.
Dalam video tersebut, primata itu tampak berada di tepi jalan dalam kondisi kebingungan. Sejumlah pengendara berhenti untuk melihat, bahkan seorang di antaranya sempat memberikan pisang. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki