Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lalu Lalang Truk Perusahaan Semen di Pemukiman Sekerat, Dinkes Kutim Soroti Potensi ISPA hingga Stunting

Jufriadi • Senin, 9 Februari 2026 | 17:14 WIB
BAHAYA: Truk pengangkut material milik perusahaan semen melintas di pemukiman warga Desa Sekerat, Bengalon, Kutim.
BAHAYA: Truk pengangkut material milik perusahaan semen melintas di pemukiman warga Desa Sekerat, Bengalon, Kutim.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Aktivitas truk pengangkut material perusahaan semen yang hilir mudik di Desa Sekerat, Bengalon, Kutai Timur (Kutim), dikhawatirkan menimbulkan persoalan kesehatan bagi warga.

Selain meningkatkan risiko kecelakaan, debu dari kendaraan besar tersebut diperkirakan dapat memicu penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA) hingga berpotensi berkaitan dengan kasus stunting pada anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan secara medis paparan debu jelas mengganggu saluran pernapasan.

“Tentu saja kalau secara medis namanya debu, itu jelas akan terhirup sehingga mengganggu saluran pernapasan termasuk ISPA. Kasus ISPA kemungkinan bisa meningkat ya. Cuma saya belum melihat datanya, nanti kita akan cek,” ujarnya.

Yuwana menegaskan bahwa secara teori peningkatan debu di lingkungan permukiman pasti berdampak pada kesehatan pernapasan warga. Karena itu, Dinas Kesehatan berencana melakukan pengecekan data ISPA terbaru di wilayah Bengalon untuk memastikan apakah ada tren kenaikan kasus.

Selain ISPA, potensi stunting juga menjadi perhatian. Ia menjelaskan bahwa infeksi saluran pernapasan yang berulang pada bayi dan balita dapat mengganggu proses tumbuh kembang.

“Kalau yang bayi-bayi ini tentu akan mempengaruhi. Dengan adanya infeksi saluran napas atas pada bayi dan balita tadi, ini kan pengaruh juga ke stunting, ke pertumbuhan tadi. Ada korelasinya,” kata Yuwana.

Meski begitu, pihaknya belum dapat memastikan angka kasus yang terkait langsung dengan kondisi lingkungan di Desa Sekerat. “Soal angkanya, belum kita lihat ya. Khusus Sekerat kita belum lihat datanya,” tambahnya.

Dinkes Kutim berencana meninjau kembali data kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta sanitasi yang berpotensi berkontribusi pada risiko stunting dan ISPA di wilayah terdampak aktivitas industri tersebut. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#stunting #lalu lalang #perusahaan semen #kesehatan warga #masalah kesehatan #truk #ispa