Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Jane di Kutim: Induk Orangutan dengan Anak Kembar Diselamatkan dari Habitat Rusak  

Jufriadi • Kamis, 5 Maret 2026 | 11:55 WIB

Induk orangutan, Jane bersama dua anak kembarnya ditemukan di kawasan hutan terfragmentasi di Bengalon, Kutim.
Induk orangutan, Jane bersama dua anak kembarnya ditemukan di kawasan hutan terfragmentasi di Bengalon, Kutim.
 

 

SANGATTA - Seekor orangutan betina bernama Jane berusia 15-20 tahun ditemukan bersama dua anak jantannya, Andrianto dan Parlin, dalam kondisi habitat yang terdegradasi.

Fenomena kelahiran bayi kembar pada orangutan merupakan kejadian yang sangat langka, namun ironisnya terjadi di tengah kerusakan ruang hidup yang membuat induk dan anak-anaknya terpaksa turun ke tanah.

Temuan ini dilaporkan masyarakat pada 15 Februari 2026 setelah video keberadaan induk dan dua anak orangutan beredar luas di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) dan para mitra turun ke lokasi untuk memastikan kondisi satwa dilindungi itu.

Direktur sekaligus Founder CAN, Paulinus Kristanto, menyampaikan, tim awalnya mendapati dua bayi orangutan bersama Jane dalam areal konsesi yang terbuka. Mereka ditemukan setelah dua hari pencarian. Setelah dilakukan pengamatan, tim penyelamat menyimpulkan kedua bayi itu kembar.

“Setelah kita lihat ukuran tubuh bayi orang utan ternyata sama. Akhirnya kita ambil kesimpulan ini kembar,” ujarnya.

Menurutnya, video viral yang memperlihatkan induk dan dua bayi berjalan di tanah menunjukkan kondisi kritis habitat. Orangutan ini mencoba bertahan di kawasan hutan terfragmentasi. Ruang jelajahnya terbatasi oleh bukaan lahan pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.

“Kalau orangutan sampai turun ke lokasi yang tidak ada hutan sama sekali, berarti dia berusaha menyebrang ke hutan lainnya cari makan. Ini menunjukkan salah satu indikasi orangutan ini membutuhkan pertolongan,” katanya.

Ia menyebut kondisi Jane semakin berat karena harus memenuhi kebutuhan nutrisi dua bayi sekaligus. “Kalau sebelumnya butuh satu kilo makanan per hari, sekarang jadi dua kilo. Habitat seperti itu tidak mampu menyediakan,” tuturnya.

Proses penyelamatan berlangsung tidak biasa. Paulinus mengatakan, Jane dan kedua bayinya justru turun ke area rendah hingga ke tanah, memudahkan proses penanganan.

“Memang ada keajaiban. mungkin karena orangutan ini memang pengen banget diselamatin,” ungkapnya.

Setelah pemeriksaan kesehatan, kondisi fisik Jane dinilai masih baik sehingga layak hidup liar. Namun kebutuhan pakan dan keberlangsungan jangka panjang menjadi pertimbangan utama dalam keputusan penyelamatan.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, menjelaskan lokasi temuan berada di kawasan yang terfragmentasi dan sempit. “Kiri kanan sudah ada kegiatan pembangunan lainnya. sehingga kemungkinan untuk bertahan hidup untuk layak itu mungkin perlu diragukan,” ujarnya.

Ia menegaska, proses penyelamatan dilakukan secara ketat dan terukur. Setelah dievakuasi, Jane dan kedua bayinya ditranslokasi ke kawasan hutan bernilai konservasi tinggi (HCV) milik sebuah perusahaan, masih dalam satu lanskap Kecamatan Bengalon, dan berjarak sekitar 30 menit dari lokasi penemuan.

“Yang kita rescue ini, anak dan induk yang sudah cukup lelah di lokasi habitatnya yang terfragmentasi dengan keterbatasan pakan, air dan sebagainya,” jelas Ari.

Kelahiran bayi kembar pada orangutan merupakan kasus yang hanya terjadi pada “satu dari ratusan” menurut Paulinus. Sayangnya, keajaiban itu justru muncul di tengah habitat yang terus menyusut.

“Bayangkan seorang ibu punya anak kembar tanpa rumah dan tanpa makanan. Itu yang terjadi pada Jane,” ujar Paulinus.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa orangutan kini semakin terdesak oleh hilangnya hutan. Jane dan kedua bayinya selamat, namun kondisi ini menegaskan perlunya perlindungan habitat yang tersisa agar keajaiban seperti ini tidak berubah menjadi tragedi di masa depan. (*)

Editor : Sukri Sikki
#orangutan #bengalon #kutai timur #BKSDA Kaltim