SANGATTA - Harga cabai di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai kembali stabil setelah sempat melonjak tajam pasca Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Per Kamis (23/3), harga cabai rawit merah tercatat turun ke kisaran Rp100 ribu per kilogram.
Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga cabai sempat menembus Rp220 ribu per kilogram dalam beberapa hari setelah Lebaran. Saat itu, lonjakan dipicu oleh kelangkaan pasokan yang terjadi secara bersamaan di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadani, menyebut tren penurunan harga menjadi indikasi awal membaiknya distribusi, meski belum sepenuhnya stabil.
“Per 26 Maret, berdasarkan data SP2KP, harga cabai rawit merah sudah turun di kisaran Rp100 ribu per kilogram,” ujarnya, saat di konfirmasi, Jumat (27/3).
Ia menjelaskan, sebelumnya kekosongan pasokan terjadi sejak H+2 Lebaran. Stok cabai lokal yang terbatas sudah habis, sementara pasokan dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi belum masuk ke pasar.
Kondisi tersebut membuat harga melonjak karena permintaan masyarakat tetap tinggi, sementara ketersediaan barang tidak mencukupi.
“Permintaan tetap tinggi, tapi barangnya tidak ada. Jadi ketika stok kosong bersamaan, harga langsung melonjak,” katanya.
Nora menambahkan, kenaikan harga cabai tidak hanya terjadi di Kutim, tetapi juga berlangsung secara nasional. Beberapa daerah penghasil utama mengalami gangguan produksi, bahkan gagal panen.
“Ini fenomena nasional. Daerah penghasil seperti Sulawesi dan Jawa juga mengalami kendala produksi, sehingga pasokan ke daerah ikut terganggu,” ungkapnya.
Di sisi lain, produksi cabai lokal di Kutim masih terbatas. Saat ini, kontribusinya baru sekitar 30 persen dari total kebutuhan dan sudah habis terserap selama bulan Ramadan.
“Produksi lokal kita hanya sekitar 30 persen dari kebutuhan, dan itu sudah habis terpakai saat bulan puasa,” tambahnya.
Editor : Muhammad Ridhuan