Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pernah Terdampak Banjir, Perumdam Kutim Pastikan Intake Kini Lebih Aman  

Jufriadi • Senin, 30 Maret 2026 | 11:30 WIB

 

 

Direktur Teknik Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim, Galuh Boyo Munanto.   
Direktur Teknik Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim, Galuh Boyo Munanto.  

SANGATTA - Intensitas hujan tinggi yang kerap memicu banjir dan luapan Sungai Sangatta menjadi perhatian serius Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutim. Meski sempat terdampak banjir ekstrem, kini sistem intake air baku dipastikan lebih siap menghadapi kenaikan debit air.

Direktur Teknik Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim, Galuh Boyo Munanto menyebutkan, pihaknya telah menyesuaikan desain dan model intake sesuai kondisi teknis di lapangan, terutama untuk mengantisipasi naik turunnya muka air sungai.

Ia menjelaskan, saat ini Perumdam memiliki total 24 unit intake yang tersebar di sejumlah wilayah. Rinciannya terdiri dari 12 unit ponton, 5 unit jembatan, 6 unit sumuran, dan 1 unit bronkaptering.

Menurutnya, khusus di wilayah Kudungga, model intake yang digunakan berupa ponton atau floating yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi sungai.

“Model ponton/floating aman terhadap naik turunnya muka air baku yang fluktuatif. Demikian untuk unit-unit yang berpola ponton relatif aman terhadap perubahan tinggi level sungai,” jelasnya, Senin (30/3).

Sementara itu, untuk intake dengan tipe tetap seperti sumuran, telah dirancang pada elevasi tertentu berdasarkan data historis, sehingga tetap aman dalam kondisi normal.

Namun demikian, ia mengakui pada 2022 lalu, terdapat dua unit intake yang sempat terdampak banjir ekstrem hingga harus dihentikan operasinya sementara waktu.

“Tahun 2022 ada riwayat 2 intake terdampak banjir ekstrim yang mengakibatkan unit sempat harus shutdown 42-72 jam (3 hari) demi keamanan instalasi,” ungkapnya.

Penghentian operasional tersebut berdampak pada layanan air bersih yang sempat terhenti hampir tiga hari. Untuk mengantisipasi hal itu, Perumdam saat itu telah lebih dulu menginformasikan kepada masyarakat agar mengisi tandon air di rumah masing-masing.

Selain itu, distribusi air darurat juga dilakukan menggunakan truk tangki, khususnya untuk memenuhi kebutuhan air minum warga. Galuh menambahkan, banjir tidak hanya berdampak pada layanan, tetapi juga menimbulkan kerugian lain seperti pembersihan fasilitas intake dari sampah dan endapan lumpur, serta potensi kehilangan pendapatan akibat terhentinya layanan. (*)

Editor : Sukri Sikki
#air minum #Perumdam #kutim #intake