KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Dulu, helm keselamatan dan sepatu pelindung bukanlah pemandangan lazim di ruang praktik sekolah di Kutai Timur (Kutim). Keselamatan kerja kerap dianggap sepele, bahkan bukan prioritas.
Di saat industri tambang menuntut standar tinggi, banyak pelajar justru masuk ke dunia kerja tanpa bekal dasar keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan hidup (K3LH) yang memadai.
Di sekolah-sekolah, K3LH masih diposisikan sebatas materi pelajaran. Belum ada pembiasaan yang benar-benar melekat dalam aktivitas praktik siswa. Tak jarang, pelajar yang mengikuti program kerja praktik atau magang di perusahaan tambang belum dilengkapi alat pelindung diri (APD) sesuai standar. Ironisnya, pengetahuan pun sangat minim.
Baca Juga: Porprov Kaltim 2026: Kutim Siap Bantu Venue Jika Fasilitas di Paser Belum Siap
Kondisi ini sejalan dengan gambaran ketenagakerjaan di Kalimantan Timur yang masih menunjukkan kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada di kisaran 5 persen, dengan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai penyumbang pengangguran tertinggi.
Pada 2025, tingkat pengangguran lulusan SMK mencapai sekitar 9,5 persen. Artinya, dari setiap 100 lulusan SMK yang masuk angkatan kerja, sekitar 9 hingga 10 orang belum mendapatkan pekerjaan, angka yang lebih tinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.
Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks dalam pendidikan vokasi, berbanding terbalik dengan tujuannya. SMK yang dirancang mencetak tenaga kerja siap pakai justru menghadapi kendala dalam penyerapan.
Faktor penyebabnya meliputi ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, serta lemahnya kesiapan non-teknis seperti disiplin, kesehatan, dan budaya kerja.
Baca Juga: Isu Harga BBM Naik Beredar, Disperindag Kutim Minta SPBU Perketat Penjualan
Di daerah industri seperti Kutim, kondisi ini menjadi ironi. Kebutuhan tenaga kerja sebenarnya cukup tinggi, namun tidak semua lulusan lokal terserap.
Persoalannya bukan sekadar ketersediaan lapangan kerja, melainkan kesiapan sumber daya manusia, termasuk minimnya pembiasaan budaya kerja seperti K3LH, keterbatasan fasilitas praktik, serta belum optimalnya penguatan soft skill.
Lapangan Kerja Terbuka Lebar, Tapi Kesiapan Putra Daerah Masih Tertinggal
Melihat kegelisahan itu, CSR Dept Head PT Pamapersada Nusantara, Agung Dwi Ananto Jati, mengatakan, kini terdapat empat sekolah binaan dalam program PAMA Safe School. Yakni SMK Muhammadiyah 1 Sangatta, SMKN 1 Sangatta Utara, SMKN 2 Sangatta Utara, dan SMKN 1 Bengalon.
Program ini telah memasuki tahun kedua, di mana perwakilan keempat sekolah tersebut akan mengikuti pelatihan lanjutan di Surabaya. Hal itu ia ungkapkan dalam sambutannya di Workshop Membaca Karakter dan Kesehatan Mental Siswa di Lantai 3 SMKN 2 Sangatta Utara oleh Pama, dengan pemateri Eva Dipanti Tumba dari Golda Institute pada Selasa (31/3).
“Kami mengharapkan ada feedback dari program ini. Kami akan menyebarkan kuesioner kepada guru dan pelajar sebagai tolok ukur evaluasi. Harapannya, seluruh pihak yang terlibat dapat memberikan masukan agar program ini semakin bermakna dan asas manfaatnya bisa dirasakan,” tuturnya.
Ia menambahkan, evaluasi juga akan melihat dampak jangka panjang, termasuk setelah siswa lulus. Pasalnya, program ini baru berjalan dua tahun lamanya.
“Program budaya K3LH ini memang menyasar SMK, karena lulusannya dipersiapkan untuk dunia kerja. Sehingga mentalitas dan kesiapan mereka harus dibangun sejak dini agar sesuai dengan kebutuhan industri dan budaya K3LH sudah melekat sejak dari bangku sekolah,” jelas Agung.
Antara Harapan dan Kenyataan Dunia Kerja
Di kalangan siswa, K3LH bahkan sempat dianggap sebagai sesuatu yang “jauh”. Budaya ini lebih dikenal sebagai bagian dari dunia perkuliahan atau lingkungan kerja profesional, bukan sesuatu yang perlu diterapkan sejak bangku sekolah.
“Dampaknya pun nyata. Banyak putra daerah kesulitan bersaing di dunia kerja, khususnya di sektor pertambangan. Rendahnya wawasan tentang keselamatan kerja dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu penghambat utama. Belum lagi persoalan kesehatan tidak sedikit calon tenaga kerja yang gagal dalam tahapan medical check up (MCU) akibat pola hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi makanan cepat saji dan kebiasaan begadang,” bebernya.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan fasilitas pendidikan. Tidak semua sekolah memiliki perlengkapan keselamatan yang memadai maupun peralatan praktik yang sesuai standar industri. Prosedur operasional standar (SOP) pun belum tersusun dengan baik, sehingga penerapan K3LH berjalan tanpa arah yang jelas.
Di sisi lain, tenaga pendidik juga belum sepenuhnya mendapatkan pelatihan khusus di bidang K3. Hal ini membuat proses penanaman budaya keselamatan kepada siswa belum maksimal. Akibatnya, mental dan kesadaran terhadap pentingnya K3LH masih rendah dan belum menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sangat tabu.
Empat Sekolah, Satu Perubahan: Dari Sangatta hingga Bengalon
Perubahan mulai terlihat ketika dunia industri turut mengambil peran. Melalui program Safe School yang dicetuskan PT Pamapersada Nusantara area PT Kaltim Prima Coal (KPC) pendekatan baru mulai diperkenalkan ke lingkungan sekolah-sekolah di kabupaten ini.
Diungkapkan oleh Ketua BKK SMK Muhammadiyah 1 Sangatta, Nurul Arianti, ST, bahwa bimbingan dari Pama Safe School mendorong peningkatan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja di sekolah.
“Melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), kesadaran siswa terhadap K3LH mulai tumbuh. Kami juga membentuk tim Satgas Safe School untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman,” terang perempuan berhijab itu.
Ia menambahkan, sekolah kini memiliki tim medis yang siaga saat kegiatan seperti upacara, serta fasilitas ruang kesehatan. Selain itu, jurusan juga lebih siap dengan perlengkapan keselamatan seperti APAR.
“Sebelum magang, siswa dibekali sosialisasi K3 selama tiga hari. Program ini dulu belum ada, tapi sekarang rutin dilaksanakan,” bebernya.
Pelatihan, simulasi, hingga pembiasaan penggunaan APD kini menjadi bagian dari proses belajar. Siswa tidak lagi hanya memahami K3LH secara teori, tetapi juga mulai menerapkannya dalam praktik sehari-hari.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga merambah ke kehidupan siswa secara lebih luas. Kesadaran akan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) mulai tumbuh, membawa dampak pada kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. Bahkan, kebiasaan positif ini perlahan menular ke lingkungan keluarga dan pergaulan di masyarakat.
Hal serupa diungkapkan oleh Ketua Satgas Pama Safe School SMKN 1 Sangatta Utara, Selamat, S.Pd, menyebut program PAMA Safe School memberi dampak positif meski baru berjalan kurang dari setahun.
“Setelah praktik di Jawa, kami bentuk satgas dan mulai menerapkan di sekolah, seperti tertib berlalu lintas dan kewajiban memakai helm bagi siswa,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran siswa terhadap keselamatan meningkat signifikan. Di mana, sebelum PKL siswa dibekali Job Safety Analysis (JSA), mulai dari potensi bahaya hingga cara menekan risiko. Satgas pun berperan menyebarkan pemahaman K3LH ke organisasi siswa lainnya.
“Sebelumnya banyak yang tidak pakai helm, sekarang sudah mulai berubah setelah mendapat pemahaman K3LH,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Satgas PAMA Safe School SMKN 2 Sangatta Utara, Rudi Hartono mengatakan pembekalan pra-magang dilakukan dengan menghadirkan PAMA, mencakup risiko kerja, potensi cedera, hingga pemeriksaan kesehatan (MCU).
“Ini agar siswa lebih siap secara mental dan kesehatan sebelum terjun ke lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, di sekolah juga dibiasakan pola hidup sehat seperti senam rutin dan penyediaan makanan sehat, termasuk di kantin, meski pengawasan di luar sekolah kerap menjadi tantangan.
Manfaat lain juga dirasakan sekolah lain, seperti yang dibeberkan oleh Ketua Satgas Pama Safe School SMKN 1 Bengalon, Junaidi. Kata dia, sebelum adanya program Pama Safe School, materi K3LH di sekolahnya sudah diajarkan, namun masih bersifat teoritis. Kehadiran program ini menjadi penguat dengan menghubungkan teori dan praktik di dunia industri, sekaligus mendorong internalisasi nilai K3LH di lingkungan sekolah.
Salah satu dampak nyata ialah terbentuknya Satgas Siswa sebagai pelopor keselamatan yang aktif merancang dan menjalankan berbagai kegiatan, seperti safety talk rutin, workshop identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA), edukasi kesehatan, hingga aksi peduli lingkungan. Kesadaran siswa pun mulai tumbuh signifikan, meski belum merata sepenuhnya.
“Program Pama Safe School memberikan dampak besar bagi kami. Pemahaman K3 yang sebelumnya hanya teori kini mulai terimplementasi dalam aktivitas sehari-hari. Melalui Satgas Siswa, kami menanamkan bahwa K3LH merupakan kebutuhan, terutama untuk menghadapi dunia kerja,” ujar Junaidi.
Menanam Budaya, Menyongsong Generasi Emas
Di daerah industri seperti Kutai Timur, isu keselamatan kerja bukan sekadar teori. Tingginya aktivitas pertambangan menempatkan wilayah ini dalam kategori berisiko tinggi terhadap kecelakaan kerja. Secara nasional, kasus kecelakaan kerja mencapai ratusan ribu setiap tahun. Ini menjadi sinyal bahwa tanpa pembekalan K3LH sejak sekolah, lulusan tidak hanya tertinggal dalam persaingan kerja, tetapi juga berada dalam posisi rentan saat menghadapi realitas lapangan yang penuh risiko.
Secara keseluruhan, hadirnya program PAMA ini tidak hanya memperkuat sistem dan budaya sekolah, tetapi juga mempererat hubungan dengan industri, terutama dalam mewujudkan sekolah vokasi berbasis K3LH.
Transformasi ini menunjukkan bahwa budaya bisa dibentuk melalui pembiasaan yang konsistensi. Dari yang sebelumnya dianggap tabu, K3LH kini mulai menjadi kebutuhan dan bagian penting dalam membentuk generasi yang siap kerja, sehat dan sadar lingkungan.
Kendati demikian, perjalanan masih panjang. Membangun budaya K3LH yang benar-benar mengakar membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pihak sekolah, industri, pemerintah dan masyarakat.
Sehingga, hal itu meraih atensi positif dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Kalimantan Timur, yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Ruth Deiche.
Pihaknya mengapresiasi penuh CSR PT Pamapersada Nusantara yang telah berperan aktif memberikan budaya K3LH. Menurutnya, hingga saat ini sangat jarang ditemui pihak perusahaan yang peduli pada soft skil, terutama kondisi dan mental siswa, dimana pihak Pama telah berupaya membangun kesadaran itu sejak dini, menyongsong masa depan menyiapkan generasi emas.
“Harapannya pelatihan karakter seperti ini berdampak pada kesadaran siswa kita, terutama saat mereka terlibat di dunia industri,” ucapnya.
Kini, satu hal yang pasti, perubahan telah dimulai. Dari ruang-ruang praktik sederhana di Kutai Timur, harapan itu kini tumbuh perlahan, tetapi pasti dan bertahan. (*)
Editor : Duito Susanto