KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Di tengah laju pembangunan infrastruktur perkotaan Kutai Timur (Kutim) serta pesatnya sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, kondisi berbeda justru terjadi di wilayah pedalaman.
Di Desa Longjak, Kecamatan Busang, anak-anak harus bertaruh nyawa demi bersekolah. Mereka terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu karena hingga kini belum tersedia jembatan penghubung antarwilayah.
Kondisi tersebut viral setelah sebuah video diunggah akun Instagram @emakfarida77. Dalam unggahan itu, warga menceritakan lamanya penantian pembangunan jembatan yang tak kunjung terealisasi.
Ia mengaku telah menunggu sejak masih berstatus pelajar, hingga kini memiliki anak dan cucu yang juga mengalami kondisi serupa. "Memang mahal kah? Apa memang selama ini menunggunya?" ujarnya dalam video tersebut.
Baca Juga: Anggaran Porprov Dipangkas, Percasi Kaltim Tetap Gas: Nasib Atlet Jadi Sorotan
Ia menyoroti aktivitas kapal pengangkut batu bara yang lalu lalang di sungai utama, yang dinilainya kontras dengan kondisi masyarakat setempat.
Camat Busang, Uleh Juk, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan masyarakat memang masih mengandalkan perahu penyeberangan karena belum adanya jembatan. "Kondisi itu sudah lama. Saya juga baru disana. Says juga belum tahu persis," ujarnya, Selasa (7/3).
Ia menjelaskan, pembangunan jembatan di lokasi tersebut membutuhkan anggaran besar sehingga harus melalui skema multiyears. "Belum masuk Musrenbang. Karena itu jembatannya skala besar. Itu harus MY," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kutim, Jimmi, mengaku akan menindaklanjuti informasi tersebut dengan meninjau langsung ke lokasi. "Nanti kami cek lokasinya," ujar Jimmi.
Baca Juga: Realisasi Baru Rp 15 Miliar per Tahun, Kaltim Serius Gali PAD dari Pajak Air Permukaan Industri
Video tersebut pun menuai perhatian publik. Sorotan di media sosial memunculkan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membangun jembatan, sehingga akses pendidikan anak-anak di pedalaman Kutim tidak lagi mempertaruhkan keselamatan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo