Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kisah Mauliyan dan Ariandi, Orangutan Kurus yang Bertahan di Tengah Krisis Habitat

Jufriadi • Rabu, 27 Mei 2026 | 14:16 WIB
Orangutan Mauliyan bersama anaknya, Ariandi, usai dievakuasi dari kawasan tambang batu bara di Kutai Timur dalam kondisi malnutrisi akibat minim sumber pakan. (Dok. BKSDA Kaltim)
Orangutan Mauliyan bersama anaknya, Ariandi, usai dievakuasi dari kawasan tambang batu bara di Kutai Timur dalam kondisi malnutrisi akibat minim sumber pakan. (Dok. BKSDA Kaltim)

 

SANGATTA -  Video seekor induk orangutan kembali ramai diperbincangkan beberapa waktu belakangan. Dalam rekaman singkat itu, induk orangutan terlihat berjalan perlahan di jalan hauling tambang batu bara di Kutai Timur (Kutim), sementara bayinya terus menempel dan mengikuti langkah sang induk.

Kondisinya tampak memprihatinkan. Tubuhnya kurus dengan tulang menonjol dan rambut rontok hampir di seluruh badan. Video yang pertama kali diunggah pada September 2023 lalu itu kembali memicu sorotan soal gambaran nyata bagaimana satwa endemik Kalimantan terus terdesak aktivitas industri ekstraktif.

Hasil penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA) mengungkap induk dan bayi orangutan itu ditemukan di perbatasan area tambang PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim Coalindo, Kecamatan Kaubun.

Wilayah konsesi dua perusahaan itu berada kawasan lanskap Karaitan yang bentang habitat orangutan di Kutim. Namun kini terfragmentasi akibat aktivitas pertambangan, perkebunan sawit, hingga Hutan Tanaman Industri (HTI).

Di lanskap itu, hutan hanya tersisa beberapa wilayah kecil yang terpisah satu sama lain. Orangutan dan satwa liar lainnya terpaksa bertahan di ruang hidup yang semakin sempit dan minim sumber pakan.

Baca Juga: Perumda Tirta Taman Lakukan Pemeliharaan WTP Bontang Selatan 1, Distribusi Air di 10 Wilayah Terdampak  

Pada akhir September 2023, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama tim Centre for Orangutan Protection (COP) melakukan evakuasi terhadap dua individu orangutan tersebut.

 

Induk orangutan itu kemudian diberi nama Mauliyan, sementara bayinya dinamai Ariandi.

Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP, Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan Mauliyan dan anaknya dalam kondisi sangat memprihatinkan di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi tambang.

“Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan,” ujarnya.

Selama proses observasi, tim rescue mendapati Mauliyan dan Ariandi terus beraktivitas di area yang sangat minim sumber makanan. Tim bahkan harus bermalam tepat di bawah pohon tempat keduanya tidur agar proses evakuasi bisa dilakukan lebih aman.

Menjelang subuh, tim rescue mulai melakukan pembiusan menggunakan senapan bius khusus. Namun kondisi tubuh Mauliyan yang sangat kurus membuat proses itu tidak mudah. Tiga kali tembakan meleset sebelum akhirnya bius mengenai tubuh induk orangutan tersebut.

Saat efek bius mulai bekerja, Mauliyan panik dan bergerak tak terkendali di atas pohon. Ariandi sempat terlepas dari pelukan induknya sebelum berhasil diamankan tim rescue.

“Ketika tim memeriksa saat pengevakuasi ternyata air asinya cukup sedikit dan dia memiliki anak yang perlu dilakukan perawatan tentunya,” kata Widi.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan Mauliyan dan Ariandi mengalami malnutrisi akibat minimnya sumber pakan di habitat mereka. “Dari identifikasi oleh tim kami atau dokter hewan kami, keduanya mengalami malnutrisi,” ujarnya.

Menurut Ari, kondisi perilaku dua orangutan tersebut sebenarnya masih liar sehingga rehabilitasi difokuskan pada pemulihan kesehatan dan nutrisi, bukan pembentukan perilaku.

Mauliyan diperkirakan berusia 17 tahun. Saat dievakuasi, kondisi tubuhnya sangat kurus dengan skor body condition score (BCS) hanya 1,5 dari skala maksimal 5.

Tubuhnya mengalami dehidrasi, mata cekung, kulit kering dan mengelupas, serta sebagian besar rambut rontok. Tim medis juga menemukan Mauliyan kesulitan buang air besar akibat terlalu banyak mengonsumsi serat kayu dan minim cairan.

Paramedis COP, Miftachul Hanifah, mengatakan kondisi menyusui membuat tubuh Mauliyan semakin drop karena kebutuhan nutrisi meningkat sementara sumber makanan sangat terbatas. “Mauliyan diberikan porsi makan dua kali lipat lebih besar dibandingkan orangutan lain,” katanya.

Selama rehabilitasi di pusat penyelamatan orang utan BORA milik COP di Berau, Mauliyan mendapat tambahan nutrisi berupa susu kedelai, alpukat, vitamin, cairan elektrolit, hingga terapi pemulihan kulit.

Enam hari setelah tiba di pusat rehabilitasi, kondisi Mauliyan sempat memburuk. Ia mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah hingga pingsan.

Tim medis kemudian memberikan terapi cairan, dextrose, madu, dan perawatan intensif hingga kondisinya perlahan membaik.

Sementara Ariandi yang diperkirakan berusia sekitar tiga tahun ditemukan dalam kondisi fisik relatif lebih baik. Bayi orangutan itu tetap aktif dan terus berada dekat induknya selama masa rehabilitasi.

Dalam tiga bulan, berat badan Mauliyan naik sembilan kilogram menjadi 27 kilogram. Pada Maret 2024, bobotnya kembali bertambah hingga mencapai 34 kilogram.

Karena kondisi kesehatan membaik dan insting liarnya masih terjaga, Mauliyan dan Ariandi akhirnya dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutim, pada Maret 2024.

“Ketika momen pelepasliaran, Mauliyan bersama anaknya terpantau keluar dari kandang transport dan memeluk pohon lalu naik bersama-sama,” kata Widi. (*)

Editor : Sukri Sikki
#orangutan #kutai timur #BKSDA Kaltim