Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sumber Mata Air Hilang, Pasokan Air Bersih Kaliorang-Sangkulirang Terancam

Jufriadi • Kamis, 11 Juni 2026 | 12:32 WIB
Peninjauan sumber mata air di Kaliorang, Kutai Timur Selasa (9/6). (IST)
Peninjauan sumber mata air di Kaliorang, Kutai Timur Selasa (9/6). (IST)

 

SANGATTA - Pasokan air baku untuk ribuan pelanggan Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim) menghadapi ancaman serius. Dari empat sumber mata air yang selama ini menjadi andalan di kawasan PT Api-api, kini hanya tersisa satu titik yang masih aktif.

Kondisi tersebut terungkap dalam peninjauan lapangan yang dilakukan Pelaksana Tugas Camat Kaliorang Pitriani bersama Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang Takimbudi Asmuri dan unsur Forkopimcam, Selasa (9/6) lalu.

Dalam peninjauan itu, tim juga menemukan adanya sejumlah kawasan hutan yang telah dibuka atau mengalami perambahan di sekitar daerah tangkapan air.

"Saat kami melakukan survei, ditemukan beberapa titik kawasan hutan yang telah dibuka atau dirambah. Hal inilah yang membuat debit air di bak penampungan menurun drastis karena sumber mata air kita menyusut dari empat titik menjadi sisa satu titik saja," kata Pitriani.

Baca Juga: Upaya Penurunan Angka Stunting di Kubar, Wabup Nanang Adriani Tekankan Sinergi demi Generasi Emas Penyangga IKN

Menyusutnya sumber mata air berdampak langsung pada kapasitas produksi air baku. Saat ini debit air yang tersedia hanya berkisar 12 hingga 15 liter per detik, jauh di bawah kebutuhan ideal sebesar 40 sampai 50 liter per detik untuk melayani sekitar 3.827 pelanggan di Kaliorang dan Sangkulirang.

Menurut Pitriani, kerusakan kawasan hutan di sekitar daerah resapan menjadi salah satu faktor utama yang memicu berkurangnya debit mata air. Karena itu, pemerintah kecamatan berencana mendorong upaya reboisasi atau penghijauan di kawasan yang mengalami kerusakan.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mempertimbangkan pemanfaatan sumber air baku alternatif dari kawasan Gunung Sekerat. Namun, ia mengingatkan agar kerusakan yang terjadi saat ini tidak kembali terulang di lokasi baru.

"Jangan sampai saat kita beralih ke Gunung Sekerat, dampaknya akan serupa seperti hari ini akibat kita tidak menjaga kelestarian hutan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Apakah kita tega membiarkan generasi mendatang tidak bisa menikmati kekayaan alam kita?" ujarnya.

Baca Juga: FGD Pokja PKP Kubar 2026, Siap Rehab Ratusan Rumah dan Sepakati 5 Prioritas Strategis

Sementara itu, Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang Takimbudi Asmuri mengatakan pihaknya juga tengah mengkaji sejumlah alternatif untuk menjaga keberlanjutan layanan air bersih, termasuk memanfaatkan infrastruktur yang berkaitan dengan operasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang ditargetkan mulai berjalan pada akhir Juli 2026.

Pitriani berharap persoalan tersebut mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan hutan, dan masyarakat.

"Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bisa memberikan perhatian khusus terhadap kondisi alam di Kecamatan Kaliorang, terkhusus untuk mengamankan suplai air baku Perumdam ini," katanya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#Perumdam #sangkulirang #kutai timur