KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Komoditas kakao fermentasi asal Desa Karangan Ilir, Kecamatan Karangan, Kutai Timur (Kutim) mulai menembus pasar luar daerah.
Sebanyak dua ton biji kakao fermentasi dikirim ke PT Rasantara Cipta Pangan Bandung dan secara resmi dilepas oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di halaman Kantor Bupati Kutim, Rabu (17/6).
Pengiriman tersebut merupakan langkah awal pemasaran kakao fermentasi dari Kutim ke luar daerah. Rencananya, volume pengiriman mencapai dua ton setiap bulan.
Kepala Desa Karangan Ilir, Jabir, mengatakan daerahnya memiliki potensi pengembangan kakao yang cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 140 hektare lahan kakao yang mampu memproduksi hingga 150 ton kakao per tahun.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi pada produksi, melainkan mendorong seluruh hasil panen beralih ke sistem fermentasi yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding kakao biasa.
"Dari sisi peningkatan ekonominya itu luar biasa sekali. Dari biji kakao asalan ke biji kakao fermentasi itu selisihnya sampai Rp20.000 per kilo," katanya.
Jabir menjelaskan, dua tahun lalu hampir tidak ada petani yang menerapkan fermentasi pada hasil panennya. Namun saat ini sekitar 30 hingga 40 persen produksi kakao di Karangan Ilir sudah diolah melalui proses fermentasi.
Meski demikian, masih diperlukan upaya pendampingan dan penguatan pasar agar seluruh produksi kakao dapat beralih ke produk bernilai tambah tersebut.
Baca Juga: DPRD Kutai Barat Bentuk Pansus RPPA 2025, Fraksi Tekankan Transparansi dan Efektivitas APBD
"Yang menjadi pekerjaan besar kedepan yaitu bagaimana 150 ton itu bisa beranjak ke biji kakao fermentasi seperti pengiriman hari ini," jelas Jabir.
Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai daerahnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas kakao hingga menembus pasar yang lebih luas. Selain Karangan, beberapa wilayah lain seperti Busang dan Kaubun juga dinilai memiliki peluang yang sama.
Menurutnya, peningkatan kualitas produk menjadi faktor penting agar kakao Kutim mampu bersaing di pasar yang lebih tinggi. "Hanya memang sekarang kami masih tingkatkan dulu kualitas biji kakao di Kaubun. Karena sampai sekarang belum ada," tutur Ardiansyah.
Ia menambahkan, sejumlah komoditas pertanian Kutim mulai menunjukkan perkembangan positif. Selain kakao, komoditas pisang juga mulai mendapatkan akses pasar yang lebih baik sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat.
"Kita harapkan terus berkembang memberikan nuansa tersendiri terhadap ekonomi kerakyatan. Saya lebih suka menyerahkan industri industri padat karya petani," jelasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo