KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang direncanakan hadir di ratusan titik di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai berpotensi membuka pasar baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah daerah mendorong masyarakat mempersiapkan produksi pangan untuk menjemput peluang itu. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutim, Marhadyn, menyebut kebutuhan bahan pangan dalam program MBG akan cukup besar dan tersebar hingga wilayah terluar, terdepan, dan terpencil (3T).
Kondisi itu dinilai dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat lokal. Menurutnya, berdasarkan hasil diskusi dengan para kepala desa, distribusi MBG akan menjangkau sekitar 100 titik layanan.
"Ada sekitar 100 titik MBG yang akan dibangun. Ini peluang usaha yang sangat besar bagi masyarakat," ujar Marhadyn.
Baca Juga: Retribusi Parkir Tepi Jalan Bontang Anjlok, Hingga Mei 2026 Baru Terkumpul Rp19,8 Juta
Ia menjelaskan, salah satu komoditas yang diperkirakan memiliki permintaan tinggi adalah tahu dan tempe. Kedua bahan pangan tersebut diproyeksikan menjadi menu yang cukup sering digunakan dalam penyediaan makanan, bahkan bisa muncul dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Marhadyn mengingatkan perlunya kesiapan produksi agar tidak terjadi ketimpangan pasokan di pasar tradisional saat program berjalan. "Jangan sampai nanti 100 titik MBG berjalan, lalu tahu dan tempe di pasar habis diserap untuk kebutuhan SPPG sehingga masyarakat kesulitan mendapatkannya," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah mendorong pelaku usaha untuk mulai mengembangkan usaha berbasis kebutuhan MBG, terutama produksi pangan seperti tahu dan tempe. Dukungan dan pendampingan disebut akan diberikan sesuai kebutuhan.
Marhadyn juga menyebut sejumlah pengelola SPPG telah menyampaikan pentingnya menjaga ketersediaan bahan pangan lokal agar program dapat berjalan optimal tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat umum.
Baca Juga: Waspadai Sertifikat Palsu Hasil AI, Tim Verval SPMB Balikpapan Siap Lakukan Screening Ketat
"Kalau ada masyarakat yang ingin usaha tahu dan tempe, nanti akan kita bantu. Pasarnya sudah jelas dan kebutuhannya besar," tambahnya.
Lebih jauh, ia menilai MBG tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah melalui keterlibatan UMKM. Selain tahu dan tempe, berbagai produk pangan lain juga dinilai memiliki peluang untuk masuk dalam rantai pasok program tersebut.
Marhadyn berharap pelaku UMKM Kutim dapat mengambil bagian dalam pemenuhan kebutuhan MBG yang akan tersebar di berbagai kecamatan.
"Jangan sampai peluang ekonomi yang besar ini tidak bisa dimanfaatkan masyarakat Kutim. Yang kita harapkan masyarakat menjadi pelaku usahanya dan ikut menikmati manfaat ekonominya," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo