KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menyusun langkah lanjutan dalam pengendalian inflasi dengan memetakan pengembangan pertanian terpadu (integrated farming) yang telah dijalankan masyarakat.
Pendataan dinilai penting untuk mengetahui potensi produksi pangan rumah tangga sekaligus menjadi dasar penyusunan program pembinaan.
Langkah itu muncul setelah pemerintah daerah mengikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat Senin (6/7).
Baca Juga: Dari Tepi Pantai Sekerat, Ritual Belian Semega Mengawali Festival Sekerat Nusantara
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan sejumlah materi yang disampaikan kementerian dan instansi terkait akan menjadi bahan evaluasi sekaligus penyusunan kebijakan di daerah.
“Nanti kita akan bertemu lagi pada pekan depan untuk membahas perkembangan berikutnya,” ujar Ardiansyah.
Menurut Ardiansyah, salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pemerintah adalah mulai tumbuhnya konsep integrated farming di kalangan masyarakat. Pola tersebut menggabungkan beberapa jenis usaha pangan dalam satu lokasi, mulai dari budidaya tanaman, peternakan hingga kegiatan produksi pangan lainnya.
“Ada komunitas maupun rumah tangga yang mulai menjalankannya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus meningkatkan ekonomi,” katanya.
Baca Juga: Disorot DPRD Kutim karena Mangkir Rapat, Bupati Sebut Ketua TAPD Sedang Jalankan Tugas Lain
Untuk mengetahui sejauh mana penerapannya, Ardiansyah meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Pertanian melakukan inventarisasi di lapangan. Pendataan juga akan melibatkan pemerintah kecamatan agar cakupannya lebih luas.
“Saya merasa yakin gerakan ini akan terus berkembang,” tegasnya.
Ia menilai pola pertanian terpadu sudah cukup berkembang di wilayah Wahau, Rantau Pulung, dan kawasan transmigrasi. Karena itu, perhatian pemerintah kini diarahkan ke kawasan perkotaan, khususnya Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, yang dinilai masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
“Yang perlu kita dorong sekarang justru wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua DPRD Kutim Jimmi mengingatkan pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga kebutuhan pokok dalam waktu dekat. Menurutnya, dimulainya kembali aktivitas sekolah berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat.
“Minggu depan sekolah sudah mulai aktif kembali. Kemungkinan besar kondisi itu akan turut memberikan kenaikan harga beberapa komoditas seperti minyak goreng, daging ayam, tomat, timun, ikan, dan kebutuhan lainnya,” jelas Jimmy.
Selain itu, ia menilai kondisi cuaca juga dapat memengaruhi pasokan pangan. Angin selatan diperkirakan mengurangi hasil tangkapan nelayan sehingga pasokan ikan laut berpotensi turun dan memicu pergeseran permintaan ke ikan air tawar.
“Kalau pasokan ikan laut berkurang, masyarakat kemungkinan akan beralih ke ikan air tawar dan itu juga bisa memengaruhi pergerakan harga,” tuturnya. (*)
Editor : Duito Susanto