SANGATTA – Empat budaya dan tradisi asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun melalui praktik, ritual, seni pertunjukan, hingga tradisi lisan.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Ilham mengatakan, hingga kini terdapat empat budaya asal Kutim yang telah memperoleh pengakuan WBTb Nasional.
"Ini prestasi besar. Kenapa menjadi prestasi besar? Kita di Kutai Timur telah membukukan empat warisan budaya tak benda," ujar Ilham, Minggu (12/7).
Baca Juga: Kejar Target 75 Persen Registrasi Perlinsos, Dinas Sosial Balikpapan Siapkan Layanan Jemput Bola
Budaya pertama yang memperoleh pengakuan adalah Hudoq pada 2013. Tradisi masyarakat Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau itu merupakan ritual tari bertopeng yang digelar dalam pesta adat Lom Plai sebagai bentuk doa memohon kesuburan sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen.
Penarinya mengenakan topeng kayu berbentuk hewan atau roh pelindung yang dipadukan dengan balutan daun pisang sebagai simbol alam.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 2015, Lom Plai juga ditetapkan sebagai WBTb. Tradisi tersebut merupakan pesta adat pascapanen masyarakat Dayak Wehea yang menjadi rangkaian syukur sekaligus pelestarian nilai budaya.
Selanjutnya pada 2021, Bekenjong memperoleh pengakuan sebagai WBTb. Ritual pengobatan tradisional masyarakat Kutai itu dipimpin seorang pawang menggunakan mantra, tarian Ngenjong, iringan musik klentangan, serta sesaji. Tradisi tersebut dipercaya sebagai sarana penyembuhan, penolak bala, sekaligus media komunikasi dengan alam gaib.
Sementara itu, pada tahun ini Belian Kutai Semega dari Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, juga resmi masuk daftar WBTb Nasional. Ritual tersebut bertujuan memohon keselamatan, membersihkan kampung dari marabahaya, serta ditutup dengan prosesi Mengolor Prahu Naga atau larung ke laut sebagai simbol pelepasan bala.
Selain empat budaya yang telah diakui, Disdikbud Kutim menyiapkan sejumlah usulan baru untuk diajukan sebagai WBTb. Salah satunya adalah Emuang Panas Pelas yang direncanakan kembali diusulkan pada 2027.
"Walaupun sebenarnya tahun lalu sudah kami usulkan. Tahun ini sudah diusulkan tetapi ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi," jelasnya.
Tradisi lain yang juga disiapkan untuk diusulkan ialah Seksiang, permainan tradisional perang-perangan di atas perahu yang menjadi bagian dari Festival Lom Plai, serta Beang Bit, kudapan tradisional khas Suku Dayak Wehea yang menyerupai dodol.
"Namun perlu diketahui bahwa usulan warisan budaya tak benda Indonesia itu harus melalui kajian akademis," pangkasnya.(*)
Editor : Sukri Sikki