KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Aktivitas investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK), Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur (Kutim) mulai menunjukkan perkembangan.
Dua perusahaan telah masuk dan menanamkan modal dengan nilai investasi yang disebut mencapai lebih dari Rp 10 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Novian Prananta, mengatakan dua perusahaan tersebut adalah PT Palma Serasi Internasional (PSI) dan PT Prima Nusantara Indosentosa (PNI).
Baca Juga: Tembus Rp20 Triliun, Kutim Jadi Daerah dengan Investasi Terbesar Kedua di Kaltim
“Tadi ada dua, PSI dan PNI. Yang satu di bidang bulking station. Yang kedua itu adalah bidang logistik,” kata Novian, Senin (20/7).
PSI akan mengembangkan fasilitas bulking station atau terminal tangki timbun untuk penyimpanan komoditas cair, khususnya crude palm oil (CPO) dan produk turunannya sebelum dipasarkan maupun diekspor.
Sementara PNI bergerak di bidang logistik dengan rencana pembangunan fasilitas pergudangan untuk mendukung distribusi barang di kawasan industri KEK Maloy.
Baca Juga: Transaksi Sabu di Depan Musala, Pria di Sangkulirang Tak Berkutik Diciduk Polisi
Terkait nilai investasi, Novian mengaku tidak mengingat angka pasti. Namun, nilainya diperkirakan mencapai lebih dari Rp 10 triliun.
“Nilai investasinya itu kisaran di atas Rp 10 triliun,” ujarnya.
Selain dua investasi yang sudah berjalan, DPMPTSP juga mencatat adanya minat dari calon investor baru yang tengah menjajaki peluang usaha di KEK Maloy. Salah satu sektor yang dilirik adalah pengolahan batu bara berkalori rendah melalui teknologi gasifikasi.
“Terbaru di KEK MBTK, ada investor yang tertarik untuk menanamkan investasi di bidang smelter batu bara,” ungkapnya.
Menurut Novian, proyek tersebut direncanakan mengolah batu bara berkalori rendah menjadi produk gasifikasi dengan nilai investasi yang disebut mencapai lebih dari Rp 25 triliun.
“Ini sekarang lagi masa penjajakan. Mereka (investor) masih mencoba, nanti janjinya ke lapangan dulu melihat situasi dan segala macam,” katanya.
Meski demikian, DPMPTSP belum dapat memastikan realisasi investasi tersebut karena masih berada pada tahap awal kajian dan survei lapangan. Pemerintah daerah masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari calon investor sebelum menyampaikan informasi resmi mengenai rencana tersebut. (*)
Editor : Duito Susanto