KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Potensi sektor perikanan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai masih belum tergarap maksimal. Padahal, daerah ini memiliki wilayah pesisir yang luas dan sumber daya perikanan yang melimpah.
Di tengah dominasi sektor batu bara dan perkebunan sawit, pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor lain sebagai penopang perekonomian. Salah satunya melalui penguatan komoditas perkebunan dan perikanan.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan sejumlah komoditas non tambang mulai menunjukkan perkembangan. Di sektor perkebunan, kakao menjadi salah satu komoditas yang mulai mendapat permintaan dari luar daerah.
"Selain daripada kita sudah eksis di batu bara dan sawit, yang lain akan kita terus dorong. Di tingkat perkebunan, misalnya cokelat," ujarnya.
Baca Juga: Bandara Tanjung Bara Mulai Beroperasi untuk Umum, Begini Cara Mendapatkan Tiket dan Akses ke Bandara
Menurut dia, permintaan kakao dari pasar regional terus bertumbuh. Kutim bahkan masih mampu memenuhi kebutuhan pasokan biji kakao ke luar daerah.
"Cokelat sekarang juga sudah mulai ada permintaan regional, di Jawa Barat itu sekitar 5 ton. Kami masih mampu untuk mengirim biji cokelat lagi," tuturnya.
Baca Juga: Wali Kota Andi Harun Bantah LPJU Jembatan Achmad Amins Padam karena Tak Ada Anggaran
Selain kakao, pemerintah daerah juga berupaya mendorong kembali pengembangan komoditas karet. Namun di antara berbagai sektor yang ada, potensi kelautan dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tergarap optimal.
"Hanya satu yang kita belum, laut yang belum kita manfaatkan itu. Ini sayangnya padahal laut kita ini ikannya baik yang besar maupun yang kecil banyak," lanjutnya.
Potensi tersebut didukung wilayah pesisir Kutim yang cukup panjang. Kabupaten ini memiliki garis pantai sepanjang 522 kilometer hingga 587,62 kilometer yang membentang di kawasan Selat Makassar dan Laut Sulawesi.
Baca Juga: Bupati Mahulu Siapkan Pelatihan Guru dan Orangtua, Perkuat Pendidikan Inklusi Sejak PAUD
Meski memiliki sumber daya ikan yang melimpah, pengembangan sektor ini masih terkendala minimnya investasi pendukung, termasuk fasilitas cold storage dan armada penangkapan yang memadai.
Menurut Ardiansyah, keberadaan cold storage penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan sebelum dipasarkan. Namun, untuk meningkatkan skala usaha perikanan, dibutuhkan investasi yang lebih besar, termasuk kapal yang dilengkapi fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
"Kalau storage itu saya kira hanya membantu nelayan untuk usaha mereka. Tapi kalau ada kapal yang memiliki cold storage, itu yang membutuhkan investasi modal yang cukup besar. Karena kapalnya aja sudah harus kapal yang representatif," jelasnya.
Ia menilai keberadaan fasilitas penyimpanan maupun industri pengolahan hasil perikanan dapat meningkatkan nilai tambah produk laut sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.(*)
Editor : Sukri Sikki