Lepas Ketergantungan LPG, Warga Desa Bukit Permata di Kutim Andalkan Biogas dari Kotoran Sapi

Jufriadi • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 11:12 WIB
Peternakan sapi Kelompok Tani Rimba Raya di Desa Bukit Permata, Kaubun, Kutim mengolah kotoran sapi menjadi biogas sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. (IST)

 

 
Peternakan sapi Kelompok Tani Rimba Raya di Desa Bukit Permata, Kaubun, Kutim mengolah kotoran sapi menjadi biogas sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. (IST)    

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kotoran ternak sapi mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif di Desa Bukit Permata, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur (Kutim). Melalui instalasi biogas yang dikelola Kelompok Tani Rimba Raya, kotoran sapi diolah menjadi gas untuk memenuhi kebutuhan memasak rumah tangga.

Keberhasilan tersebut mendorong Pemerintah Desa Bukit Permata menyusun rencana pengembangan peternakan sapi berbasis biogas di setiap RT. Program itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari usaha peternakan.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Perlambatan Ekonomi Diduga Picu Fenomena Rumah Dijual di Kaltim, Ini Penjelasan Pengamat Unmul

Ketua Kelompok Tani Rimba Raya, Kaeri mengatakan, pemanfaatan biogas merupakan hasil pendampingan yang dilakukan oleh perusahaan sejak 2023. Awalnya, anggota kelompok tidak yakin limbah ternak dapat diolah menjadi sumber energi.

"Awalnya kami tidak percaya kalau kotoran sapi bisa menghasilkan gas untuk memasak, apalagi menjadi sumber penghasilan. Setelah dibina selama tiga tahun oleh PT Indeksim, kami mengikuti semua proses yang diajarkan hingga akhirnya berhasil seperti sekarang," ujarnya.

Menurut dia, perubahan juga terjadi pada pola pemeliharaan ternak. Jika sebelumnya sapi dipelihara secara lepas, kini kelompok menerapkan sistem kandang intensif sehingga pengelolaannya lebih terkontrol.

Saat ini Kelompok Tani Rimba Raya mengelola sekitar 100 ekor sapi yang terdiri atas sapi penggemukan dan pembibitan. Operasional peternakan ditangani enam pekerja kandang dengan biaya sekitar Rp 15 juta setiap bulan.

Selain beternak, kelompok juga memproduksi pupuk kompos dari limbah ternak. Produksi kompos mencapai sekitar 15 ton per bulan yang dipasarkan melalui kerja sama perusahaan.

Baca Juga: Keunikan Rasa Madu yang “Jujur" dari PPU, Kini Sudah Tembus Luar Negeri 

Untuk memenuhi kebutuhan pakan, kelompok memanfaatkan rumput hasil bantuan Pemprov Kaltim serta rumput liar di sekitar perkebunan sawit. Namun, Kaeri mengakui ketersediaan tenaga kerja masih menjadi kendala dalam pengembangan usaha tersebut.

Di sisi lain, instalasi biogas yang dibangun masih berstatus percontohan. Meski demikian, kapasitasnya dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga.

"Dengan kapasitas digester sekitar tujuh ton, gas yang dihasilkan setara kurang lebih tiga kilogram LPG per hari. Untuk kebutuhan memasak sehari-hari masih sangat mencukupi," jelasnya.

Kaeri berharap teknologi tersebut dapat diterapkan lebih luas sehingga masyarakat memiliki alternatif energi ketika pasokan LPG terbatas.

Sementara itu, Kepala Desa Bukit Permata Sutrisno mengatakan pemerintah desa telah menyiapkan rencana pembentukan kelompok tani ternak sapi di setiap RT. Gagasan itu muncul setelah melihat hasil yang dicapai Kelompok Tani Rimba Raya.

"Kami ingin setiap RT memiliki kelompok tani ternak sapi. Nantinya kotoran sapi tidak terbuang begitu saja, tetapi dimanfaatkan menjadi biogas sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada LPG," kata Sutrisno.

Menurutnya, pengembangan peternakan akan difokuskan pada sistem pemeliharaan intensif. Selain menghasilkan sapi penggemukan dan pembibitan, seluruh limbah ternak, termasuk kotoran dan urine, akan dimanfaatkan agar memiliki nilai tambah.

Pemdes juga telah menyiapkan skema pemasaran. Sapi penggemukan akan diprioritaskan untuk kebutuhan menjelang Iduladha, sedangkan sapi pembibitan dikembangkan sebagai sumber pendapatan jangka panjang bagi kelompok tani.

Sutrisno menambahkan, pemerintah desa telah menyusun rencana beserta kebutuhan anggaran untuk merealisasikan program tersebut secara bertahap. (*)

Editor : Sukri Sikki
ternak sapi biogas lpg kutai timur Kaubun