Persiapkan Pemimpin Masa Depan, Lima Bayi Laki-Laki Dimandikan dalam Prosesi Adat Ufah Dayak Kayan

Jufriadi • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:50 WIB
GENERASI PEMIMPIN MASA DEPAN: Suasana pelaksanaan upacara adat Ufah Suku Dayak Kayan yang diikuti lima bayi laki-laki di Rumah Panjang Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur, Minggu (9/8/2026). (Jufriadi/KP)
GENERASI PEMIMPIN MASA DEPAN: Suasana pelaksanaan upacara adat Ufah Suku Dayak Kayan yang diikuti lima bayi laki-laki di Rumah Panjang Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur, Minggu (9/8/2026). (Jufriadi/KP)

SANGATTA – Lima bayi laki-laki mengikuti prosesi adat Ufah Dayak Kayan di Rumah Panjang Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur (Kutim), Minggu (9/8). Tradisi tersebut menjadi bagian dari proses pentahbisan anak laki-laki yang sejak dahulu dikaitkan dengan persiapan calon pemimpin masyarakat Kayan.

Prosesi berlangsung di tengah masyarakat Dayak Kayan yang mengikuti rangkaian upacara adat tersebut. Para tokoh adat dan pemerintah daerah turut menyaksikan prosesi dari lamin atau Rumah Panjang.

Ketua Umum Persatuan Dayak Kayan Kaltim dan Kaltara, Tan Irang, mengatakan Ufah telah dikenal sejak zaman nenek moyang masyarakat Kayan. Tradisi tersebut menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan dan mengkader anak laki-laki yang diharapkan menjadi pemimpin di masa depan.

“Pada zaman nenek luhur suku Kayan sudah memiliki budaya untuk mempersiapkan seorang pemimpin kelak yang dilakukan melalui suatu acara adat yaitu acara adat Meju Ufah,” kata Tan Irang.

Baca Juga: Dokter RSUD IA Moeis Disanksi, Andi Harun Minta Inspektorat Periksa Pelanggaran

Dia menjelaskan, pada masa lalu Ufah menjadi bagian dari strategi masyarakat Kayan untuk mencari dan mengkader anak laki-laki yang dianggap memiliki potensi bagi masa depan suku Kayan. Proses tersebut dilakukan melalui tahapan pentahbisan.

Upacara Ufah secara tradisi dilaksanakan di luar Rumah Panjang. Masyarakat membuat kemah sederhana dengan atap dari daun pisang atau daun alang-alang. Prosesi dimulai pada pagi hari dengan durasi pelaksanaan yang tidak ditentukan secara khusus.

Menurut Tan Irang, Ufah memiliki harapan agar anak yang menjalani prosesi tersebut ketika dewasa dapat memiliki karakter sebagai pemimpin. Di antaranya teguh dalam pendirian, kesatria, dan memiliki karisma.

“Tujuannya adalah agar anak Ufah bila sudah dewasa kelak akan menjadi seorang pemimpin yang tegar dalam pendiriannya, kesatria, dan memiliki karisma yang tinggi sebagai seorang pemimpin,” ujarnya.

Baca Juga: Penangkapan Berujung Maut di Teluk Pandan Resmi Dilaporkan ke Propam, Keluarga Ungkap Kesaksian

Nilai tersebut, lanjut dia, masih relevan untuk kehidupan masyarakat saat ini. Tradisi Ufah tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga menjadi simbol harapan terhadap lahirnya generasi penerus yang mampu mengambil peran dalam masyarakat. 

“Kalau kita bicara sekarang ini, Ufah itu apa? Mempersiapkan pemimpin di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur,” katanya.

Karena itu, Tan Irang menilai pendidikan menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda Dayak Kayan. Dia berharap pemerintah daerah turut memberikan dukungan pendidikan bagi putra-putri Kayan di Desa Miau Baru.

“Kami mohon kepada pemerintah daerah Kabupaten Kutai Timur agar memprogram biaya pendidikan diploma S1 bagi putra-putri Kayan yang ada di Desa Miau Baru,” pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Ufah Dayak Kayan Desa Miau Baru Kongbeng kutim