Kasus Hipertensi Masih Tinggi di Kutim, Diskes Ingatkan Risiko Stroke pada Usia Muda

Jufriadi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:57 WIB
Kepala Dinas Kesehatan, Kutim Yuwana Sri Kurniawati. (JUFRIADI/KP)

 
Kepala Dinas Kesehatan, Kutim Yuwana Sri Kurniawati. (JUFRIADI/KP)  

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Kutai Timur (Kutim). Data Aplikasi Sehat Indonesiaku mencatat 12.715 kasus hipertensi sepanjang 2025. Sementara hingga 11 Agustus 2026, tercatat 6.727 kasus.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama stroke. Berdasarkan data dari sejumlah puskesmas, kasus stroke di Kutim mencapai 46 kasus pada 2025. Sedangkan hingga 2026, tercatat 18 kasus.

Baca Juga: Bankeususdes Kutim Diusulkan Cair Dua Tahap, Pagu Anggaran Tetap Rp 250 Juta Per Desa

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kutim Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup menunjukkan tren yang perlu diperhatikan. Perubahan pola makan menjadi salah satu faktor pemicunya.

"Trennya memang tinggi. Ini termasuk penyakit yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup. Sekarang banyak orang mengonsumsi makanan yang kurang terkontrol, sehingga kolesterol dan tekanan darah meningkat dan akhirnya bisa memicu stroke maupun penyakit jantung," ujarnya.

Baca Juga: SMP YPVDP Bontang Setop Sementara MBG, Kepala Sekolah Soroti Hasil Laboratorium dan SOP Dapur  

Menurut Yuwana, stroke juga cukup sering menjadi kondisi yang ditemukan pada pasien yang dibawa ke rumah sakit. Penanganan sejak awal sangat menentukan kondisi pasien.

"Stroke memiliki masa emas penanganan. Dalam enam jam, pasien harus segera mendapat penanganan. Kalau terlambat, terutama ketika terjadi perdarahan otak, penanganannya bisa lebih sulit," jelasnya.

Ia menyebut pemeriksaan CT scan dan MRI diperlukan untuk mengetahui kondisi pasien, termasuk mendeteksi adanya perdarahan otak.

Baca Juga: Pemkot Balikpapan Tinjau SPPG Sepinggan 7, Wawali Bagus Susetyo Pastikan Standar BGN dan Keamanan Pa

Yuwana juga menyoroti meningkatnya risiko penyakit metabolik pada kelompok usia muda. Salah satunya dipengaruhi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi.

"Sekarang banyak anak muda yang mengonsumsi kopi dengan gula tinggi. Kalau kebiasaan ini terus berlangsung, kadar gula dan kolesterol bisa meningkat. Ini yang perlu diwaspadai," katanya.

Menurutnya, diabetes yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani dapat memicu komplikasi, termasuk gangguan ginjal dan stroke.

"Kasus diabetes pada anak muda juga mulai banyak ditemukan. Kalau tidak terdeteksi dan ditangani, risikonya bisa berkembang menjadi gagal ginjal dan stroke di usia muda," pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
Yuwana Sri Kurniawati kutai timur hipertensi dinas kesehatan