KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kemarau panjang tak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat. Satwa liar juga mulai menghadapi keterbatasan pakan dan air. Di Kutai Timur (Kutim), kondisi tersebut berpotensi mendorong orangutan keluar dari habitatnya, terutama di wilayah Bengalon yang menjadi salah satu kantong populasi orangutan.
Baca Juga: Jalan Sehat Balikpapan Selatan Meriahkan Peluncuran CFD Oleh Wali Kota
Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo Paulinus Kristanto mengatakan, kondisi kering membuat satwa harus mencari sumber makanan dan air di luar kawasan hutan. Situasi itu berisiko mempertemukan satwa dengan masyarakat.
"Ketika musim kemarau panjang seperti ini, konflik antara satwa dan manusia semakin tinggi. Sebagai contoh semakin banyaknya orangutan sekarang di musim kemarau ini ditemukan di area Bengalon," jelasnya.
Menurut Paulinus, persoalan tersebut berkaitan dengan kondisi hutan yang semakin terpecah. Ketika kawasan hutan masih luas, satwa memiliki lebih banyak pilihan untuk mencari pakan dan tempat berlindung. Namun ruang tersebut kini semakin terbatas.
"Nah, yang terjadi adalah dengan kondisi sekarang itu semakin buruk karena memang kemampuan hutan untuk menahan situasi kekeringan semakin berkurang," ujarnya.
Keterbatasan ruang hidup kemudian berpengaruh terhadap ketersediaan makanan. Saat kemarau, sejumlah sumber pakan alami ikut berkurang. Bagi orangutan, berkurangnya pohon juga berkaitan dengan kebutuhan tempat untuk membuat sarang.
Dalam kondisi seperti itu, kebun milik warga menjadi salah satu lokasi yang dapat dituju. Tanaman yang masih menghasilkan buah bisa menjadi sumber makanan alternatif bagi satwa yang kesulitan mendapatkan pakan di hutan. "Itulah kenapa tingkat konflik akan semakin tinggi," tuturnya.
Baca Juga: Banggar DPRD Mahulu Soroti Anggaran Rp135 M Perjalanan Dinas, Dorong Pembangunan Jalan Long Apari
Beberapa tanaman yang biasa ditemukan di kebun masyarakat, seperti kelapa, singkong, dan nangka, berpotensi menarik satwa. Sebab, tanaman tersebut masih dapat menyediakan makanan ketika buah-buahan di hutan tidak banyak tersedia.
Persoalan lain adalah air. Paulinus menyebut satwa tidak hanya bergerak karena mencari makanan, tetapi juga untuk mendapatkan sumber air yang masih tersedia. Ketika sungai kecil di dalam hutan menyusut, satwa bisa mendekati sumber air yang berada di kawasan aktivitas manusia.
Jika sumber air tersebut tidak lagi mencukupi, satwa harus kembali berpindah. Kondisi itu bisa membuat satwa menempuh jarak lebih jauh dan berisiko mengalami dehidrasi.
"Kalau mereka enggak bisa bertahan di situ, ya mereka akan mati atau mereka akan terus-terus pindah untuk menemukan sumber air lainnya," ujarnya.
Pergerakan satwa untuk mencari habitat yang lebih baik juga terkendala fragmentasi hutan. Kawasan yang sebelumnya menjadi jalur alami kini bersinggungan dengan berbagai aktivitas manusia.
"Celakanya adalah hutan-hutan sekarang itu banyak yang sudah terfragmentasi," terang dia.
Di Berau, Paulinus melihat kawasan hulu Kecamatan Kelay masih menjadi salah satu wilayah yang relatif lebih aman bagi satwa. Saat kebakaran terjadi di wilayah lain, satwa berpotensi bergerak menuju kawasan tersebut.
Hanya saja, perjalanan menuju kawasan tersebut tidak sepenuhnya melalui habitat alami. Satwa harus melintasi wilayah yang telah menjadi kawasan perusahaan.
"Sayangnya adalah untuk berpindah dari lokasi yang terbakar ke lokasi yang lebih aman itu melintasi perusahaan-perusahaan. Mungkin itu yang akan jadi catatan susahnya bagi satwa untuk pindah," tuturnya.
Untuk mengantisipasi meningkatnya perjumpaan satwa dengan manusia, CAN Borneo menyiapkan tim penyelamatan. Personel juga dibagi untuk membantu penanganan kebakaran.
"Sampai saat ini tim kami ada 20. Itu terbagi dari tim pemadam kebakaran dengan tim penyelamatan satwa," ungkapnya.
Satwa yang masih sehat akan diarahkan kembali ke habitat yang lebih aman. Sedangkan satwa yang ditemukan dalam kondisi lemah atau mengalami dehidrasi perlu mendapat penanganan sebelum dikembalikan ke alam. (*)
Editor : Sukri Sikki