KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Timur (Kutim) diantisipasi dengan memperkuat pemantauan dari tingkat kabupaten hingga desa. Pemerintah daerah meminta posko penanggulangan bencana tidak hanya aktif saat terjadi kebakaran, tetapi juga memantau potensi munculnya titik api.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan kondisi cuaca kering membuat upaya pencegahan perlu diperketat. Mitigasi yang telah dilakukan sebelumnya menjadi modal untuk menghadapi kemungkinan munculnya titik api di sejumlah wilayah.
“Kutai Timur sudah melakukan mitigasi sebelumnya. Jadi saya yakin, meskipun hari ini barangkali titik api itu ada, kita di Kutai Timur sudah siap untuk mengantisipasi dampak dari meluasnya titik api, asap, dan sebagainya,” ujar Ardiansyah.
Baca Juga: Seluruh Desa dan Kelurahan Kutim Sudah Ada Posbankum, Diharap Siap Tangani Konflik Lahan
Hal itu disampaikan Ardiansyah saat memimpin Rapat Inventarisasi Personil dan Sarana Prasarana Karhutla serta Pembentukan Posko Penanggulangan Karhutla di Aula BPBD Kutim, Senin (24/8). Dalam rapat tersebut, kesiapan personel, peralatan, hingga pola koordinasi lintas sektor kembali dibahas.
Ardiansyah meminta BPBD memastikan posko utama beroperasi selama 24 jam. Pemantauan juga harus berjalan di posko kecamatan dan desa sehingga informasi mengenai kondisi wilayah dapat diketahui lebih cepat.
Selain kesiapan petugas, pencegahan di tingkat masyarakat menjadi perhatian. Ardiansyah meminta warga menghentikan sementara aktivitas pembakaran sampah maupun sisa pembersihan lahan dan pekarangan.
Baca Juga: Kemarau Bikin Orangutan di Bengalon Keluar dari Habitat, Risiko Konflik dengan Warga Makin Tinggi
“Sekecil apa pun api yang kita temui, baik di jalan atau di pekarangan warga yang dibersihkan setiap sore, tolong itu dihentikan dulu. Karena yang datang ini El Nino,” tegasnya.
Dukungan penanganan karhutla disiapkan dari sejumlah unsur. PT Kaltim Prima Coal (KPC) menyiagakan 67 personel, PT PAMA 17 personel, dan Dinas Pemadam Kebakaran sebanyak 183 personel.
Sementara KPHP Bengalon-Manubar menyiapkan personel sekitar 7 hingga 18 orang. Kekuatan tersebut dilengkapi lima unit pos pemantauan dan 26 kendaraan pemadam.
Kesiapan armada dan personel diperlukan mengingat luas wilayah Kutim membuat jarak menuju lokasi kebakaran menjadi salah satu tantangan. Dengan dukungan sejumlah pihak, mobilisasi petugas diharapkan bisa dilakukan lebih cepat ketika ditemukan kebakaran.
Pemkab Kutim juga meminta informasi terkait hotspot tidak langsung disebarkan sebelum melalui verifikasi. Ardiansyah mengarahkan agar koordinasi dilakukan dengan posko utama BPBD untuk memastikan informasi mengenai titik panas, asap, maupun kebakaran sesuai kondisi di lapangan.
Meski kualitas udara di Sangatta masih dalam kondisi aman, kewaspadaan tetap diminta. Masyarakat disarankan menggunakan masker apabila asap mulai mengganggu dan menghindari pembakaran terbuka selama kondisi cuaca masih kering. (*)
Editor : Duito Susanto