Inovasi Dapur Stunting Bawa Desa Singa Gembara Wakili Kutim ke Tingkat Kaltim

Jufriadi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:41 WIB
Kepala Desa Singa Gembara, Hamriani Kassa. (IST)

 

 
Kepala Desa Singa Gembara, Hamriani Kassa. (IST)    

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Inovasi Dapur Stunting menjadi salah satu program yang mengantarkan Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, mewakili Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Penanganan Stunting tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Penilaian tersebut merupakan bagian dari evaluasi pelaksanaan Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S). Dalam tahapan ini, tim penilai dari Pemprov Kaltim melihat sejumlah aspek, mulai dari perencanaan, pemanfaatan data, pelaksanaan program hingga inovasi yang dijalankan desa.

Baca Juga: Tangkal Pelat Palsu Saat Aturan Ganjil-Genap Biosolar Berlaku, Satgas Gabungan Siap Awasi SPBU

Dapur Stunting menjadi salah satu inovasi yang dipaparkan Desa Singa Gembara dalam proses penilaian. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak.

Kepala Desa Singa Gembara Hamriani Kassa mengatakan, gagasan Dapur Stunting berangkat dari kebutuhan yang ditemukan di tengah masyarakat. Pembahasannya dilakukan melalui musyawarah mulai dari tingkat dusun hingga RT.

“Dapur Stunting ini bukan hanya tempat membuat makanan sehat. Kami ingin tempat ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi dan mendapatkan edukasi mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak, serta bagaimana mencegah stunting sejak dini,” kata Hamriani.

Menurut dia, pemberian makanan bergizi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan pemahaman keluarga. Karena itu, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak.

Melalui pendekatan tersebut, keluarga diharapkan tidak hanya menerima makanan tambahan, tetapi juga memahami cara memenuhi kebutuhan gizi anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pengelolaan program juga diperkuat dengan penerbitan SK Penunjukan Pengelola Dapur Stunting oleh pemerintah desa. Pelaksanaannya mendapat dukungan PT PAMA serta pemerintah daerah melalui APBDes 2025, terutama pada bidang kesehatan dan pendidikan.

Dalam penilaian tingkat provinsi, Desa Singa Gembara juga diminta menjelaskan sejumlah indikator lainnya. Di antaranya pelaksanaan pra-musyawarah perencanaan pembangunan (pra-musrenbang), pemanfaatan aplikasi Electronic Human Development Worker (EHDW), serta keterlibatan masyarakat dan lintas sektor.

Tim penilai berasal dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Tim Penggerak PKK, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Provinsi Kaltim.

Hamriani mengatakan dukungan lintas pihak dibutuhkan agar program penanganan stunting tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan. Edukasi kepada keluarga dinilai tetap menjadi bagian penting dalam upaya jangka panjang.

“Target akhirnya bukan hanya desa berkinerja baik, tetapi bagaimana anak-anak kita tumbuh sehat, generasi kita kuat, dan masyarakat semakin memahami pentingnya gizi dan kesehatan,” ujarnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
stunting inovasi kutai timur kaltim