KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Debu kembali menjadi persoalan bagi masyarakat Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Dalam beberapa waktu terakhir, debu batu bara disebut terlihat cukup parah pada siang hari, bersamaan dengan kondisi kemarau yang membuat jalan semakin kering.
Kepala Desa Sekerat Sunandika mengatakan, wilayahnya hampir dua bulan tidak diguyur hujan. Kondisi tersebut membuat debu dari aktivitas kendaraan semakin mudah beterbangan.
“Kurang lebih dua bulan terakhir wilayah kami hampir tidak diguyur hujan. Kondisi ini menyebabkan debu jalan semakin parah,” kata Sunandika dalam keterangannya, Kamis (3/9).
Baca Juga: Warga Serbu Bazar Buku Murah Disputakar Balikpapan, Belum Buka Pengunjung Sudah Antre
Dari sekitar 23 kilometer jalan menuju Desa Sekerat, sekitar 18 kilometer di antaranya masih belum dilakukan semenisasi. Debu semakin terasa ketika kendaraan melintas di jalan yang belum diperkeras.
Selain dari darat, aktivitas batu bara di sekitar pesisir juga menjadi perhatian. Sejumlah perusahaan memiliki aktivitas conveyor dan kegiatan batu bara di kawasan tersebut. “Ketika angin kencang, debu batu bara dapat beterbangan dan dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sunandika menyebut persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Ia berharap pengendalian debu dari aktivitas perusahaan diperketat, termasuk pemantauan kualitas udara di sekitar permukiman.
Baca Juga: Pemkab Kutai Barat Terapkan E-SPK untuk P3K Paruh Waktu, Dorong Transformasi Digital Kepegawaian
Pemerintah desa juga menyoroti aktivitas batu bara di laut. Masyarakat, kata dia, melihat adanya material yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan dan masuk ke perairan.
“Di laut, masyarakat juga melihat adanya material batu bara yang diduga jatuh atau tercecer dari aktivitas perusahaan dan masuk ke perairan,” katanya.
Ia juga mempertanyakan alat pemantau kualitas udara yang sebelumnya pernah ditempatkan di sekitar Desa Sekerat. Menurutnya, alat tersebut perlu lebih aktif digunakan saat musim kemarau. “Kami ingin mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi udara yang setiap hari kami hirup,” katanya.
Di sisi lain, persoalan jalan masih menjadi pekerjaan lama. Status jalan tersebut merupakan jalan kabupaten dan usulan peningkatan disebut telah berulang kali disampaikan melalui Musrenbang maupun komunikasi dengan pemerintah daerah.
“Saya sudah menjabat lebih dari empat tahun sebagai Kepala Desa Sekerat, tetapi sampai hari ini peningkatan jalan tersebut belum dapat direalisasikan secara keseluruhan,” ujar Sunandika.
Kondisi akses juga dinilai menghambat pengembangan potensi wisata Sekerat yang memiliki pantai, air terjun dan potensi paralayang. Sunandika berharap pemerintah daerah dan perusahaan duduk bersama mencari solusi atas persoalan debu, lingkungan dan infrastruktur. “Kami hanya meminta keadilan bagi masyarakat Desa Sekerat,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki