Kabut Asap Menyelimuti Sangatta, Warga Keluhkan Mata Perih dan Hidung Tersumbat

Jufriadi • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:09 WIB
Kabut asap menyelimuti kawasan Sangatta, Kutai Timur, Rabu (16/9). Kondisi terlihat semakin pekat menjelang sore. (Jufriadi/KP)
Kabut asap menyelimuti kawasan Sangatta, Kutai Timur, Rabu (16/9). Kondisi terlihat semakin pekat menjelang sore. (Jufriadi/KP)

SANGATTA – Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Sangatta, Kutai Timur (Kutim), Rabu (16/9). Kondisi tersebut mulai terlihat sejak pagi dan semakin pekat menjelang sore.

Langit Sangatta juga tampak mendung. Kabut asap terlihat menutupi sejumlah kawasan, sementara udara di beberapa lokasi mulai terasa berbeda. Sejumlah warga mengeluhkan bau asap yang tercium hingga ke dalam rumah.

Kondisi tersebut juga dirasakan warga yang beraktivitas di luar ruangan. Mata terasa perih dan hidung tersumbat menjadi beberapa keluhan yang disampaikan warga.

Arif, warga Sangatta Utara, mengatakan bau asap bahkan tercium dari pendingin udara di rumahnya. Matanya juga mulai terasa perih.

“Saya kira karena cuaca mendung. Tapi makin sore asapnya semakin tebal dan mata jadi perih,” kata Arif.

Menurut dia, kondisi tersebut semakin terasa ketika memasuki sore. Bau asap yang masuk ke dalam rumah membuat aktivitas di dalam rumah turut terganggu.

Keluhan lain disampaikan Tio, warga Sangatta. Ia mengaku mengalami hidung tersumbat sejak kabut asap mulai terlihat.

“Dari pagi sudah mulai kelihatan. Makin sore semakin pekat,” ujarnya.

Di sejumlah ruas jalan, kondisi udara yang berkabut juga terlihat oleh pengguna kendaraan. Aktivitas lalu lintas tetap berlangsung, meski suasana jalan tampak diselimuti kabut asap. 

Kabut asap juga membuat kondisi Sangatta terlihat berbeda dibanding biasanya. Dari kejauhan, kawasan yang biasanya terlihat jelas tampak tertutup lapisan asap.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah mengenai penyebab munculnya kabut asap tersebut maupun kondisi kualitas udara di Sangatta. (*)

Editor : Ismet Rifani
kabut asap dampak karhutla asap ganggu kesehatan