KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutai Timur mulai membangun sistem pangkalan data digital terintegrasi. Langkah ini diambil guna mengatasi persoalan klasik tercecernya data atlet, pelatih, hingga rekam jejak prestasi di masing-masing cabang olahraga.
Sistem digitalisasi tersebut resmi diperkenalkan dalam agenda Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim di Kantor KONI Kutim, Kompleks Olahraga Kudungga, Sangatta, Senin (21/9).
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menegaskan, ketiadaan data terpadu selama ini menjadi ganjalan besar bagi pemerintah daerah dan KONI dalam memetakan potensi riil olahraga daerah secara menyeluruh.
Baca Juga: Bus Perintis Samarinda-Kutim Disiapkan, Bakal Manfaatkan Jalan Hauling Perusahaan
"Selama ini salah satu persoalan pembinaan olahraga adalah data yang tersebar, data atlet di cabang olahraga masing-masing, data prestasi ada di tempat lain. Begitu juga data pelatih," beber Mahyunadi di hadapan para pengurus cabang olahraga.
Menurutnya, integrasi data digital akan mempermudah pemetaan cabang olahraga unggulan serta mendeteksi atlet-atlet potensial yang layak dipertahankan dan dikembangkan.
"Kalau semuanya bisa kita lakukan dalam sebuah sistem digital, maka kita akan lebih mudah dalam menjawab pertanyaan sederhana tapi penting. Yaitu seberapa besarnya jumlah atlet kita," ungkapnya.
Baca Juga: Tiga Desa di Kutim Belum Dialiri PLN, Ini Opsi Pengaliran Listrik yang Disiapkan
Mahyunadi menginstruksikan agar aplikasi tersebut tidak hanya memuat biodata formal semata. Riwayat kejuaraan, medali yang diraih, hingga grafik perkembangan kemampuan atlet wajib terekam berkesinambungan.
"Saya bahkan berharap ke depan aplikasi ini jangan hanya menjadi tempat penyimpanan nama dan biodata atlet. Kita kembangkan menjadi database prestasi atlet Kabupaten Kutai Timur," tegasnya.
Ia mengingatkan pengelola sistem agar konsisten memperbarui data berkala. Pasalnya, data yang kedaluwarsa justru akan menyesatkan arah kebijakan pembinaan olahraga daerah.
"Saya ingin digitalisasi olahraga Kutai Timur mempunyai tiga prinsip, yaitu datanya lengkap, datanya akurat, dan datanya selalu diperbarui," tandas Mahyunadi.
Kendati sistem digital disiapkan sebagai sarana penunjang mutakhir, Mahyunadi menggarisbawahi bahwa prestasi tertinggi atlet di gelanggang tetap ditentukan oleh porsi latihan dan ketangguhan mental bertanding.
"Prestasi tetap lahir dari latihan, lahir dari disiplin, kerja keras, mental, mental bertanding dan kemampuan untuk terus memperbaiki diri," ujarnya seraya menekankan pentingnya jam terbang lewat laga uji tanding berkala.
Pelatihan digitalisasi yang bergulir selama dua hari, 21 hingga 22 September, ini diproyeksikan menjadi rujukan utama kontingen Kutim dalam menghadapi berbagai agenda kejuaraan olahraga mendatang. (*)
Editor : Duito Susanto