KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi meminta kepentingan politik tidak menjadi pertimbangan dalam pembinaan maupun rekrutmen atlet.
Menurutnya, penentuan atlet dan arah dukungan cabang olahraga harus mengacu murni pada kemampuan fisik serta data prestasi konkret di lapangan.
Hal tersebut ditegaskan Mahyunadi di hadapan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutim saat membuka Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim di Kantor KONI Kutim, Kompleks Olahraga Kudungga, Sangatta, Senin (21/9).
Baca Juga: Benahi Pembinaan Olahraga Daerah, Kutim Bangun Sistem Digitalisasi Data Atlet Terintegrasi
Ia menilai, campur tangan politik yang berlebihan justru dapat merusak pembinaan olahraga, terutama jika dijadikan dasar pemilihan atlet maupun cabor yang difasilitasi.
“Politik dan olahraga sebenarnya baik kalau dipadukan. Tetapi banyak juga olahraga yang rusak gara-gara politik,” kata Mahyunadi.
Dia meminta KONI Kutim mempertahankan atlet dan program yang sudah terbukti menorehkan prestasi. Pergantian kepemimpinan daerah dinilai tak boleh menjadi alasan untuk merombak kebijakan tanpa melihat capaian yang sudah berjalan.
Baca Juga: Sempat Terekam di Jalan Hauling Perusahaan, Orangutan di Kutim Akhirnya Berhasil Dievakuasi
“Kita tetap pertahankan yang berprestasi. Tidak boleh ada kepentingan politik yang melukai prestasi atlet,” tegasnya.
Mahyunadi juga mengingatkan pembagian anggaran cabor harus bersandar pada skala kebutuhan dan rekam jejak capaian, bukan atas dasar kedekatan politis.
Menurut dia, integrasi data melalui sistem digital sangat penting untuk meminimalisasi unsur subjektivitas saat seleksi atlet dilakukan.
“Melalui data digital ini, walau ada keinginan-keinginan politik, semua pihak tetap dipaksa melihat fakta dan data yang ada,” tuturnya.
Ia mencontohkan, ketika terdapat dua atlet dengan kemampuan berbeda, keputusan mutlak harus jatuh kepada atlet dengan catatan performa terbaik.
Selain itu, Mahyunadi mendorong KONI melakukan pemetaan atlet hingga tingkat kecamatan agar potensi anak-anak muda di pelosok daerah dapat terjaring optimal.
“Kita harus menyingkirkan ego politik. Dalam rekrutmen atlet, utamakan potensi dan bakat atlet yang bersangkutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, jabatan politik maupun sokongan pihak tertentu tidak akan pernah bisa menggantikan kualitas murni seorang atlet saat bertanding.
“Walaupun pangkatnya di politik tinggi, kalau memang kemampuannya belum sampai, jangan pernah dipaksakan,” pungkas Mahyunadi. (*)
Editor : Duito Susanto