Air Bersih Belum Menjangkau Sebagian Rumah Warga Kaliorang, Beli Air Rp 1 Juta Sebulan

Jufriadi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 13:50 WIB
Plt Camat Kaliorang, Pitriani.
Plt Camat Kaliorang, Pitriani.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Akses air bersih masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur (Kutim). Sejumlah desa di wilayah ini hingga kini belum sepenuhnya terlayani jaringan Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB).

Kondisi tersebut kian menyulitkan warga, terutama saat memasuki musim kemarau. Masyarakat yang belum memiliki sambungan pipa terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih.

Harga air bersih yang dibeli warga berkisar antara Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu per tandon. Pengeluaran ini menjadi beban tambahan yang rutin dihadapi warga setiap tahunnya.

Baca Juga: DPRD Soroti 'Sulap Anggaran' APBD Perubahan 2026, Pemkot Balikpapan Pilih Buka Suara di Paripurna

Plt Camat Kaliorang Pitriani mengungkapkan, layanan Perumdam TTB sejatinya telah menjangkau sejumlah desa. Wilayah tersebut meliputi Desa Bukit Makmur, Bukit Harapan, Citra Manunggal Jaya, Bangun Jaya, hingga Bumi Sejahtera.

Kendati demikian, jaringan pipa distribusi menuju rumah warga belum sepenuhnya terpasang. Salah satu titik yang paling merasakan kendala ini adalah warga di Desa Kaliorang.

"Kalau dari kami, PR-nya memang jaringan PDAM. Di Desa Kaliorang, pipa besarnya sudah ada dan masuk. Tetapi, aksesori atau pipa jaringan ke masing-masing rumah belum ada. Jadi, PR memang di Desa Kaliorang," kata Pitriani.

Pitriani menjelaskan, persoalan ini sudah diusulkan secara resmi kepada pemerintah daerah. Pemerintah desa setempat juga berinisiatif menjalin komunikasi dengan pihak Perumdam TTB agar jaringan rumah tangga bisa segera dipasang.

Baca Juga: Kualitas Udara Lima Kecamatan di Kutim Belum Aman, Disdikbud Belum Buka Sekolah Tatap Muka

"Sudah diusulkan ke pemerintah. Informasinya, kepala desa juga sudah menghadap PDAM. Tinggal menunggu tindak lanjut," imbuhnya.

Ia sangat berharap penyambungan jaringan ke rumah warga lekas terealisasi. Pasalnya, pipa utama yang telah membentang di depan permukiman belum memberi manfaat nyata jika belum terhubung langsung ke dapur warga.

"Harapan kami dari pihak PDAM ada respons secepatnya. Karena sekarang masyarakat melihat pipa besar mengalir di depan rumah, tetapi tidak menerima air. Jadi, selama ini masyarakat membeli air," tutur Pitriani.

Akibat keterbatasan itu, beban belanja air warga melonjak drastis selama kemarau panjang. Dalam sebulan, sebagian warga bahkan harus mengalokasikan anggaran hingga jutaan rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar air bersih.

"Ada yang satu bulan habis Rp 1 juta untuk beli air. Air saja. Selama musim kemarau ini ada yang Rp 1 juta, ada juga yang Rp 500 ribu," ungkapnya.

Sebelum kemarau melanda, warga setempat umumnya masih dapat menyiasati kebutuhan harian dengan mengandalkan air tadah hujan dan sumur galian. Namun, sumber-sumber alternatif tersebut kini mengering total.

"Kalau kemarin mereka mengandalkan air hujan. Hujan ditampung atau menggunakan sumur. Sumur-sumur itu terisi saat hujan saja. Kemarau ini kering, betul-betul kering," jelas Pitriani.

Selain Desa Kaliorang, persoalan serupa masih ditemui di sepanjang jalur poros Kaliorang, termasuk sebagian kawasan Desa Citra Manunggal Jaya. Pipa tersier menuju hunian warga di wilayah tersebut belum merata.

Kabar baiknya, pasokan air untuk wilayah poros Kaliorang yang terhubung dengan pipa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) saat ini mulai berangsur normal.

"Kalau yang lain, alhamdulillah, setelah ada sambungan dari KEK MBTK, sudah mulai normal untuk wilayah Kaliorang, khususnya yang ada di poros Kaliorang," pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
Perumdam Tirta Tuah Benua air bersih kutim kecamatan kaliorang kutai timur krisis air bersih