Air Sungai Sangatta Berubah Kehijauan, Perumdam TTB Ungkap Penyebabnya  

Jufriadi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 12:50 WIB
LINGKUNGAN: Air Sungai Sangatta tampak kehijauan. Perumdam Kutim menyebut kondisi itu bukan akibat kadar garam. (IST)
LINGKUNGAN: Air Sungai Sangatta tampak kehijauan. Perumdam Kutim menyebut kondisi itu bukan akibat kadar garam. (IST)

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Perubahan warna air Sungai Sangatta menjadi kehijauan belakangan menjadi perhatian. Kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya peningkatan kadar garam atau pengaruh air laut.

Perumda Air Minum Tirta Tuah Benua (Perumdam TTB) Kutai Timur (Kutim) menyebut perubahan warna lebih berkaitan dengan organisme di dalam air.

Baca Juga: Drainase Jalan Asmawarman Bontang Capai 80 Persen, Finishing Tinggal Pasang Kanstin dan Cat

Asisten Manajer Laboratorium Perumdam Kutim Endah Budi Lestari mengatakan, hasil pemeriksaan menunjukkan kadar klorida di sejumlah titik masih berbeda cukup jauh.

Pemantauan dilakukan rutin untuk melihat perubahan kondisi air baku, terutama saat pasang. “Waktu pemeriksaan dilakukan pada saat kondisi pasang dan setiap hari,” kata Endah dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Baca Juga:   Dinas PUPRK Bontang Bersihkan Drainase Tersumbat di Berbas Pantai

Pemantauan intensif dilakukan sejak 24 Agustus 2026. Parameter yang diperiksa meliputi kadar klorida, salinitas, total dissolved solids (TDS), electrical conductivity (EC), dan pH.

Pada 7 September, kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang tercatat mencapai 400 mg/L. Namun, di titik Prodesa Kabo hanya 4,8 mg/L. Perbedaan tersebut menunjukkan pengaruh air asin dari muara belum menunjukkan indikasi signifikan di sekitar intake IPA Kabo.

Baca Juga: Stok BBM Kaltim Dipastikan Aman, Pertamina Optimalkan Pelayanan SPBU  

Kondisi serupa terlihat dari pemeriksaan terbaru pada 23 September. Kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang tercatat 148,2 mg/L. Sementara di Prodesa Kabo 8,3 mg/L dan Intake Kabo 4,9 mg/L.

Endah menjelaskan, warna hijau pada air tidak otomatis berkaitan dengan kadar garam. Kondisi tersebut lebih sering dipengaruhi organisme yang berada di dalam air.

“Warna hijau lebih sering berkaitan dengan organisme, alga atau bahan organik, bukan karena ion garam,” jelasnya.

Sebelumnya, kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang juga sempat meningkat dari 315,6 ppm pada 24 Agustus menjadi 330,8 ppm pada pemeriksaan berikutnya. Kenaikan mencapai 15,2 ppm atau sekitar 4,82 persen.

Meski terjadi peningkatan di kawasan tersebut, kondisi itu belum menunjukkan bahwa air laut telah memengaruhi kualitas air di titik intake. Karena itu, Perumdam Kutim masih melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan perubahan kualitas air baku dapat diketahui lebih awal.

Selain klorida, pemeriksaan juga mencakup salinitas untuk mengetahui tingkat keasinan atau konsentrasi garam terlarut. TDS digunakan untuk melihat jumlah padatan terlarut, sedangkan EC mengukur daya hantar listrik yang berkaitan dengan kandungan ion atau garam dalam air. Pemeriksaan pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman air.

Baca Juga: Dishub Balikpapan Matangkan Rute Baru Bacitra hingga Manggar dan Km 23

Endah mengimbau masyarakat, terutama yang berada di sekitar wilayah muara, tidak menggunakan air sungai secara langsung untuk kebutuhan minum dan memasak. Masyarakat juga diminta memperhatikan perubahan warna, bau maupun rasa air sebelum menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga.

“Pemantauan air baku ini akan terus dilakukan. Ini bagian dari upaya Perumdam Kutim menjaga kualitas air dan memastikan kondisi sumber air tetap terpantau," pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
Perumdam TTB Kutim garam sungai sangatta Suparjan