SANGATTA – Potensi produksi gabah Kutai Timur (Kutim) diperkirakan meningkat saat panen raya Februari mendatang. Dari lahan seluas 850 hektare yang telah masuk dalam program pertanian, produksi diproyeksikan mencapai 6.800 hingga 8.500 ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutim Dyah Ratnaningrum mengatakan, potensi tersebut membutuhkan kesiapan penyerapan agar hasil produksi petani tidak menumpuk dan mengganggu keberlanjutan usaha tani.
“Kalau hitungannya satu hektare itu delapan ton, dari 850 hektare ada sekitar 6.800 ton yang harus diserap. Kalau bisa sampai 10 ton per hektare, ada 8.500 ton yang harus diserap Bulog,” kata Dyah. Lahan tersebut merupakan bagian dari program pertanian yang tengah dikembangkan di Kutim. Dinas Pertanian dan Hortikultura (DTPHP) Kutim disebut telah menandatangani kontrak untuk pengembangan lahan seluas 850 hektare.
Dyah mengatakan, persoalan serapan menjadi perhatian karena kapasitas gudang Bulog yang tersedia saat ini terbatas. Kondisi tersebut dapat menjadi kendala ketika produksi petani meningkat dalam waktu bersamaan.
“Kalau gudang Bulog mempunyai gudang di sini, berapa pun hasil panen petani Bulog akan siap menyerap,” ujarnya. Dyah mencontohkan kondisi saat panen sebelumnya di kawasan Kobun. Dari sekitar 3.000 ton hasil panen, Bulog hanya mampu menyerap sekitar 300 ton karena keterbatasan kapasitas.
Untuk mengantisipasi kelebihan produksi, Dinas Ketahanan Pangan Kutim kemudian berkoordinasi dengan Persatuan Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi). Penyerapan juga dilakukan sejumlah perusahaan di wilayah tersebut.
“Untuk yang di Kobun sudah aman. Hasil panennya sudah diserap semuanya oleh Bulog dan Perpadi, selain juga perusahaan-perusahaan yang ada di sana,” jelasnya. Pemkab Kutim berharap pola penyerapan serupa dapat menjadi solusi sementara sembari menunggu pembangunan gudang Bulog. (adv/riz)
Editor : Muhammad Rizki