Data Stunting Sangatta Selatan Masih Didalami, Pemerintah Kecamatan Minta Pendataan Lebih Terukur  

ADV • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 12:38 WIB
Camat Sangatta Selatan, Dewi. (Jufriadi/KP)
Camat Sangatta Selatan, Dewi. (Jufriadi/KP)

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Pemerintah Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim) masih membenahi basis data stunting sebagai pijakan dalam menentukan langkah penanganan. Validitas data dinilai penting agar program yang dijalankan tidak salah sasaran.

a

Camat Sangatta Selatan Dewi mengatakan, pihaknya belum ingin terburu-buru menentukan pola intervensi sebelum memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi anak dan keluarga yang masuk dalam sasaran stunting.

Baca Juga: Menuju MTQ Ke-54 Kota Balikpapan, Balikpapan Selatan Matangkan Kafilah dan Kesiapan Venue

Menurut Dewi, angka stunting yang berubah dari bulan ke bulan perlu dilihat lebih jauh. Perubahan tersebut belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan karena dapat dipengaruhi oleh jumlah sasaran yang datang ke Posyandu dan tercatat dalam pemeriksaan.

“Sekarang kami masih mendalami datanya. Saya ingin memastikan dulu siapa saja yang masuk sasaran, sehingga nanti intervensinya bisa dimulai dari persoalan yang memang ditemukan di lapangan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Sangatta Selatan, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga: Dinas Perhubungan Balikpapan Gandeng Sopir Angkot Susun Peta Integrasi Rute Bacitra

Ia mencontohkan, angka yang tercatat bisa mengalami kenaikan pada satu periode, kemudian turun pada bulan berikutnya. Kondisi tersebut perlu ditelusuri agar pemerintah tidak keliru membaca perkembangan kasus.

“Misalnya Juli naik, Agustus turun, kemudian September naik lagi. Pola seperti itu perlu kita lihat penyebabnya, apakah memang kondisi anak berubah atau karena jumlah yang datang dan terdata berbeda,” jelasnya.

Baca Juga: Polsek Sangkulirang Tangkap Dua Terduga Pelaku Pencurian 1,15 Ton Sawit di Perkebunan Perusahaan

Karena itu, kecamatan mendorong pendataan yang lebih rinci hingga tingkat individu. Data by name by address dinilai diperlukan untuk mengetahui kondisi masing-masing anak sekaligus keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Dewi menyebut, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan angka secara keseluruhan. Sebab, persoalan yang dihadapi setiap keluarga bisa berbeda, baik dari sisi asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi maupun pola pengasuhan.

“Yang paling penting kita tahu dulu orangnya siapa, alamatnya di mana, kemudian persoalannya apa. Dari situ baru kita bisa menentukan intervensi yang sesuai,” katanya.

Pembenahan data tersebut juga membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Kecamatan, pemerintah desa, Posyandu, puskesmas hingga perangkat terkait diharapkan memiliki acuan data yang sama sehingga perkembangan sasaran dapat dipantau secara berkelanjutan.

Dengan basis data yang lebih terukur, pemerintah kecamatan berharap penanganan stunting di Sangatta Selatan tidak hanya berorientasi pada perubahan angka bulanan. Melainkan dapat diarahkan pada kebutuhan masing-masing sasaran.

“Kalau data awalnya sudah benar dan konsisten, tentu akan lebih mudah menentukan program apa yang harus diberikan kepada keluarga,” pungkas Dewi. (adv)

Editor : Sukri Sikki
stunting data Dewi Sangatta Selatan