Sawah Sangkima Masih Bergantung Hujan, Irigasi Jadi Kendala Petani

ADV • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 12:43 WIB
Kepala Desa Sangkima Muhammad Alwi.
Kepala Desa Sangkima Muhammad Alwi.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Aktivitas pertanian di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim), masih sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Minimnya jaringan irigasi membuat para petani belum bisa mengatur pola tanam secara teratur dan masih bergantung pada curah hujan.

Kepala Desa Sangkima Muhammad Alwi menuturkan bahwa lahan persawahan di wilayahnya terbentang cukup luas dan terhubung langsung dengan area persawahan Desa Teluk Singkama. Kendati demikian, potensi subur tersebut belum tergarap optimal akibat keterbatasan sarana pengairan.

Baca Juga: Penggabungan RT di Sangatta Selatan Perlu Bertahap, Kecamatan Soroti Data dan Kondisi Warga

“Untuk saat ini petani masih mengandalkan hujan. Kalau tidak ada hujan, mereka kesulitan menentukan waktu tanam dan tidak bisa menjaga pola tanam secara berkelanjutan,” ungkap Alwi.

Ketergantungan terhadap cuaca ini berimbas langsung pada hasil panen petani. Memasuki musim kemarau, petani di Sangkima diperkirakan hanya mampu memanen padi satu kali saja sepanjang tahun ini.

Menurut Alwi, kondisi tersebut membuat produktivitas lahan jauh di bawah potensi riil yang dimiliki desa. Keberadaan saluran irigasi dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak agar lahan pertanian bisa berproduksi sepanjang musim.

Ia berharap pembangunan sarana pengairan segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Dengan dukungan irigasi memadai, petani tidak perlu lagi cemas menunggu turunnya hujan untuk mulai membajak sawah.

Baca Juga: Niat Bertamu Malah Tertangkap Basah Bawa Sabu, Polisi Amankan NA dan MR di Sangatta Utara

“Kalau irigasi tersedia, petani tentu lebih mudah mengatur waktu tanam. Lahan yang ada juga bisa dimanfaatkan lebih maksimal, tidak hanya menunggu musim hujan,” tegasnya.

Selain sawah, Desa Sangkima menyimpan potensi perkebunan yang menjanjikan, khususnya kelapa sawit. Namun, pengembangan komoditas tersebut tersandung status tata ruang karena sebagian areal desa masuk dalam batas kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).

“Potensi perkebunan di sana cukup besar, termasuk sawit. Namun, pengembangannya masih terkendala status kawasan karena sebagian wilayah masuk TNK,” beber Alwi.

Persoalan tumpang tindih kawasan ini, lanjut Alwi, bukan hanya menyangkut kebun sawit warga semata. Sejumlah permukiman penduduk juga berada di dalam kawasan konservasi tersebut sehingga memerlukan solusi dan penanganan bijak dari pihak berwenang. (*)

Editor : Duito Susanto
desa sangkima pertanian kutim irigasi sawah kutai timur taman nasional kutai