Sebagai negara dengan mayoritas perairan, Indonesia selalu menjadi daya tarik tersendiri. Dalam waktu dekat, World Water Forum akan terpusat di Bali. Salah satu tempat yang menjadi “magnet”- nya adalah Desa Wisata Jatiluwih.
KEINDAHAN Jatiluwih memang tak perlu diragukan. Lanskap pemandangan yang indah akan memanjakan mata. Berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Jatiluwih bak permata dan budaya yang tersembunyi di lereng Batukaru. Berada di ketinggian sekitar 685 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan tersebut bahkan sudah diakui dunia lewat UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (2012).
Dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), sistem pengarian sawah tradisionalnya, yakni subak, diakui sebagai warisan budaya dunia. Sistem subak, berdasarkan ajaran Tri Hita Karana, dalam Hindu mencerminkan keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritual.
Desa Wisata Jatiluwih dikelilingi hutan lindung seluas 24 hektare (ha). Itu merupakan rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik. Di antaranya, berbagai jenis burung langka dan hewan seperti kukang jawa yang sering terlihat pengunjung saat mendaki atau bersepeda melalui jalur setapak yang membelah hutan dan sawah. Kawasan tersebut tak sekadar menyuguhkan pemandangan sawah terasering yang memukau. Tempat pengunjung menikmati berbagai aktivitas luar ruang seperti trackking dan bersepeda melalui jalur yang menghubungkan sawah dengan hutan. Desa wisata yang bakal kedatangan delegasi forum air sedunia itu juga kerap menyelenggarakan festival dan upacara tradisional yang memungkinkan pengunjung merasakan kekayaan budaya dan tradisi lokal.
Menparekraf Sandiaga Uno bahkan meninjau langsung tempat tersebut. Dia sangat mengapresiasi segala persiapan. “Desa Jatiluwih memiliki beberapa aktivitas yang bisa ditawarkan ke wisatawan. Hal itu sangat cocok untuk ditampilkan di hadapan delegasi World Water Forum 2024,” sambungnya.
Selain meninjau Desa Jatiluwih, Sandiaga juga menyaksikan pelepasan burung endemik khas Bali dan cara pengusiran burung yang disebut dengan kepuakan. (dra/k16)
Editor : Dwi Restu A