Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Waspadai Gejala Baby Blues pada Ibu Pascalahiran

Dwi Puspitarini • Senin, 3 Juni 2024 | 19:09 WIB

 

Ilustrasi ibu yang alami baby blues. (freepik.com)
Ilustrasi ibu yang alami baby blues. (freepik.com)

Baby blues syndrome adalah perasaan sedih yang dialami banyak wanita di masa-masa awal setelah melahirkan. Kondisi ini cenderung muncul pada masa-masa awal setelah melahirkan, biasanya hari ke-2 atau ke-3 pascapersalinan.

Umumnya, gejala baby blues akan berlangsung selama beberapa hari dan paling lama hingga 2 minggu. Perasaan sedih, kecapekan, dan kewalahan yang menerpa selama beberapa hari setelah melahirkan ini adalah hal yang wajar.

Tapi, ada risiko masalah ini berkembang menjadi lebih serius sehingga orangtua mesti memiliki pemahaman yang menyeluruh agar dapat mengantisipasi dan mengatasinya.

Meski demikian, mengutip dari situs PrimayaHospital, ada juga wanita yang kemudian mengalami kondisi yang disebut gangguan kecemasan atau depresi perinatal.

Kondisi ini berkembang dari baby blues dan memerlukan penanganan profesional, seperti obat-obatan dan terapi psikologis. Bila dibiarkan tanpa penanganan, kondisi itu akan membahayakan ibu dan bayinya.

Penyebab baby blues

Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu baby blues, termasuk perubahan hormon, stres yang dialami saat merawat bayi yang baru lahir, dan kurang tidur pada masa-masa setelah melahirkan.

  1. Perubahan hormon

Perubahan hormon selama kehamilan dan setelah melahirkan adalah salah satu faktor penyebab baby blues. Selama kehamilan, terjadi perubahan hormon tertentu pada tubuh ibu. Perubahan hormon tersebut pada saat bayi lahir dapat menyebabkan gejala baby blues.

  1. Stres saat merawat bayi

Ibu rentan mengalami stres saat merawat bayi yang baru lahir. Apalagi, bila itu merupakan pengalaman pertamanya sebagai ibu. Memiliki bayi membawa perubahan besar dalam hidup.

Bisa muncul serangkaian emosi berupa kekhawatiran, kecemasan, keraguan, dan ketakutan pada diri ibu dalam menghadapi perubahan tersebut.

  1. Kurang tidur

Perawatan bayi baru lahir juga bisa membuat ibu kurang tidur pada malam hari. Dalam sejumlah penelitian, ibu yang kurang tidur setelah melahirkan lebih mungkin mengalami depresi. Risiko ibu mengalami baby blues kian tinggi bila pada trimester ketiga sudah sulit tidur.

Baby blues dapat hilang dengan sendirinya, tanpa perawatan khusus, intervensi atau pengobatan.

Namun, apabila gejala tidak hilang setelah beberapa minggu atau malah terasa memburuk, ibu mungkin menderita depresi pascamelahirkan (postpartum depression).

Pasalnya, sekitar 10% wanita mengalami postpartum depression. Tidak seperti baby blues, depresi pascamelahirkan adalah masalah yang lebih serius dan tidak boleh diabaikan.

Cara mengatasi baby blues

  1. Istirahat cukup: Pastikan ibu mendapatkan istirahat yang cukup dan teratur untuk memperbaiki kesehatan fisik dan mental.
  2. Dukungan pasangan dan keluarga: Ibu yang mendapatkan dukungan pasangan dan keluarga, umumnya dapat mengatasi perasaan sedih dan khawatir.
  3. Berbagi tugas: Berbagi tugas dengan pasangan dalam mengerjakan urusan rumah tangga dan merawat bayi dapat membantu mengurangi beban psikis.
  4. Terapi: Jika gejala baby blues tidak kunjung membaik atau berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya ibu berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan bantuan terapi. (*)
Editor : Dwi Puspitarini
#Terapi Psikologis #baby blues #stres #pascapersalinan #Perubahan Hormon