Cerpen Karya: Rafly Akbar
Dewi menatap lekat pintu itu tanpa berkedip sedikit pun. Matanya memindai pintu kaca kafe yang kabur tersebut. Ia berharap bunyi lonceng di atasnya membawa seorang pria yang ditunggunya. Satu menit tak berkedip memandang pintu, tetapi yang ditunggu belum juga muncul-muncul.
Untuk kesekiankalinya, ia mengecek ponselnya, waktu menunjukkan pukul 03:47. Sudah 47 menit ia menunggu kencannya itu. Dewi juga melihat kembali aplikasi pesan di ponselnya, “Benar hari ini...jam tiga pas, tidak kurang, tidak lebih,”
sebutnya dalam hati.
Ia lepas kacamatanya dan mulai membersihkannya dengan pakaiannya yang berbahan katun. Kacamata itu ia dapatkan saat berumur dua puluh tahun, barangkali itu adalah hadiah kejutan dari Tuhan pada pertambahan usianya, bertambah juga ukuran minusdioptrinya. Penyakit itu berasal dari kegemarannya membaca novel-novel sejak kecil.
Dewi menyesap capucino yang dipesannya sedikit-sedikit. Minuman itu tidak lagi hangat. Belum selesai ia minum, pandangannya langsung menuju ke arah pintu ketika bel berbunyi. Ternyata hanya sepasang kekasih yang juga berkencan di kafe itu. Pasangan itu duduk di pojok bersampingan dengannya.
Dewi memperhatikan perangai mereka. Laki-laki itu mengangkat tangan meminta perhatian pelayan kafe. Tiga detik setelah itu pelayan datang membawa menu sebesar kertas A4 berwarna coklat yang sudah dilaminasi. Wanita itu mengambil menunya dan menunjuk-nunjuk salah satu yang tersedia, kemudian memberikannya ke pasangannya. Laki-laki itu melakukan hal yang sama. Pelayan pergi membawa menu dan catatan di tangannya. Pasangan itu mengobrol dengan manis, membuat Dewi tersenyum.
Ketika sibuk memperhatikan pasangan itu, bel pintu berbunyi lagi. Dalam hati, Dewi yakin itu adalah pria yang ditunggu. Ia tidak cepat-cepat melihat ke arah pintu, namun bayangan seorang pria terlihat di sana. Sesosok itu mendeham, suara seorang pria. Dewi langsung menengok ke arah suara itu. Lagi-lagi bukan yang ditunggu. Pria itu bersama dengan teman-temannya yang sudah sejak tadi ada di sana. Kejadian itu membuat Dewi agak kecewa. Ia cepat-cepat ke toilet untuk kencing, mungkin itu efek dari kopi yang diminumnya.
Setelah membereskan masalahnya di toilet, ia berjalan ke cermin untuk memperbaiki riasannya. Ia menambahkan lipstik di bibirnya yang mulai pudar akibat menempel di gelas minuman. Dewi memperhatikan bajunya, tidak ada lipatan yang tidak diinginkan. Ia lihat dirinya di cermin, memperbaiki rambutnya yang cokelat bergelombang.
Dewi mendekatkan wajahnya ke cermin, pupil matanya yang hitam terlihat membesar, ia gelisah tak tenang. Ia kemudian mengambil jarak dari cermin, lalu menarik napas panjang, mencoba menghilangkan kekhawatirannya. Ia berbicara dengan pantulannya di cermin, “Belum, aku juga baru nyampe, kok.” Ia tertawa kecil, membayangkan apa yang akan terjadi ketika si pria datang. Ia yakin benar pria ini adalah idamannya, seseorang yang mampu membangunkannya dari hibernasi karena menunggu cinta sungguhan. Seorang pria yang mampu mengangkat kutukan kesedihan di hatinya.
Dewi yakin ini adalah bagian dari takdirnya selama ini, ia yakin untuk alasan inilah ibunya membacakan dongeng Putri Tidur setiap malam, agar suatu saat seorang pangeran muncul memberikan ciuman mesra hanya untuknya.
Sekarang Dewi lebih tenang, ia melihat dirinya sekali lagi di cermin. Sempurna. Ia keluar dari toilet dengan harapan si pria tak lama lagi akan datang. Suasana kafe itu tidak jauh berbeda setelah beberapa puluh menit ia tinggal. Meja-meja di sana setengah terisi. Pelayan menyetel lagu lawas dari Jepang. Mulut Dewi ikut menyenandungkan lirik lagu tersebut sambil duduk kembali ke mejanya, “You are my shyness boy matteruno yo ... Sasoi no kotoba ....”
Tiga puluh menit berlalu, pria yang ditunggu tak menampakkan sedikit pun eksistensinya. Ketenangan Dewi terganggu lagi. Pikirannya melayang ke mana-mana, mengira-ngira apa yang terjadi pada pria itu sehingga ia tidak datang hari ini. Apakah ia jatuh sakit secara mendadak? Apakah terjadi kecelakan beruntun yang membuat kendaraan si pria tidak dapat lewat?
Jangan-jangan kucing peliharaannya sedang sakit akibat kecelakan beruntun? Seluruh pikiran itu muncul sebagai adegan-adegan dengan potongan sempurna di kepala Dewi. Dengan putus asa, ia mengambil ponselnya, untuk menghubungi dengan mengirim sejumlah pesan teks. Centang satu. Kegelisahannya berubah menjadi rasa gatal di kepalanya, padahal ia keramas hari ini.
Tak lama ponselnya bergetar. Secepat cahaya menjalar ia menggapainya. Ada notifikasi dari aplikasi pesan “SASTRA INDONESIA KELAS C: Siapa tadi yang absen terakhir....” Sialan, gerutunya dalam hati. Tak dihiraukannya pesan itu.
Ia tersandar di kursinya, tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan nada lambat tak beraturan. Suara musik dan wanita Jepang itu tidak mampu menenangkan hatinya. Pandangannya tertuju pada pasangan di sampingnya. Pasangan itu asyik dengan urusan mereka sendiri, seakan-akan dunia memiliki sekat raksasa yang membuat mereka mampu bermesraan tanpa terlihat orang lain.
Si Laki-laki menggoda pasangannya dengan gombalan-gombalan yang banal, “Kalau kamu bunga dan aku lebah. Aku rela kok mati karena nggak mengisap sarimu. Aku mau kamu tetap mekar merekah selamanya.”
Perempuan itu menutup wajahnya yang mulai memerah. Dewi yang mendengar itu merasa jijik, ingin rasanya ia katakan di depan laki-laki itu bahwa rayuan itu salah dan tidak berlandaskan pengetahuan biologi umum yang benar.
“Lebah tidak akan mati jika tidak mengambil nektar dari sebuah bunga, lagi pula bukannya keseluruhan tumbuhan itu menjadi lebih bahagia ketika sari bunga itu diisap? Bunga itu menjadi buah, menghidupi binatang di sekitarnya,” katanya dalam hati.
Padahal beberapa hari yang lalu pria yang ditunggunya itu merayunya dengan gombalan-gombalan yang sama banalnya, bahkan lebih buruk lagi, namun Dewi menikmatinya, malahan sampai jatuh terguling dari kasur mendengar rayuan pria itu di telepon. Ia tidak menyukai rayuan itu karena laki-laki itu tidak terpilih untuk merayunya. Mudahnya, laki-laki itu bukan orang yang dia suka.
Tangan laki-laki itu lambat-lambat mendekat ke tangan perempuannya. Lambat namun semakin mendekat, sampai akhirnya tangan mereka bersentuhan. Ketika itu terjadi, Dewi hanya bisa tertunduk menatap tangannya sendiri dan menggenggamnya erat-erat. Ada sebuah luka baret di punggung tangan kirinya. Ia larut dalam memori masa silamnya yang menakutkan. Memori yang membawa ayahnya pergi dan menghilang selamanya diterkam dinginnya suasana malam. Luka itu menjadi tanda bahwa ia pernah mencari ayahnya.
Saat Dewi sedang larut dalam sejarahnya sendiri, terdengar suara dari seberang mejanya, menggeser kursi lalu duduk. Dewi mengangkat kepalanya, ia terkejut. Pria itu meminta maaf, ia menyalahkan macet dan rasa individualistik kota yang semakin kuat beberapa tahun kebelakang. Pria itu bercerita tentang bagaimana atasannya menyuruhnya mengerjakan seluruh pekerjaan karena anak buahnya yang lain tidak seterampil dia.
Dewi tersenyum, jantungnya memompa darah lebih cepat sekarang. Ia tidak bisa mengatakan satu kata pun, seolah kemampuan berbahasanya tercerabut. Kegembiraannya mulai mereda, setelah pria tersebut menanyakan bagaimana kabarnya. Dewi hanya bisa mengangguk, kemampuan berbahasanya masih belum kembali.
“Bekas lukamu itu tidak hilang meski sudah bertahun-tahun,” kata pria itu. Dewi tersentak kaget, ia tidak pernah menceritakan soal itu kepada siapa pun.
“Ayahmu pasti sudah lupa dengan kejadian itu,” pria itu menambahkan. Dewi berkeringat dingin. Pria ini seperti ada di pikirannya. Dewi kebingungan.
“Bisakah kita membicarakan hal lai…“ belum habis kata-kata Dewi, pria itu menghilang.
Dewi melihat sekelilingnya, namun pria itu memang sudah lenyap begitu saja.
Pasangan di samping melihat ke arah Dewi dengan tatapan keanehan, seperti baru saja melihat orang kerasukan. Pasangan itu menjauh dari Dewi dan tak lama pergi meninggalkan kafe itu.
Dewi mulai menyadari apa yang baru saja terjadi. Pikirannya sudah tidak beres. Jam sudah menunjukkan pukul 06:09. Sepertinya pria itu tidak akan datang hari ini, juga seterusnya. Dengan penuh kekesalan ia menenggak capucinonya dengan sekali teguk sampai tak tersisa. Hanya ada satu kesimpulan baginya; kafe bukan tempat kencan yang baik.
Ia masukkan ponselnya dalam tas, bersiap-siap untuk pulang. Untuk terakhir kalinya, ia tatap pintu kaca kafe itu sekali lagi. Tanpa berkedip. Dua puluh detik. Tiga puluh. Matanya semakin memicing. Terdengar bunyi lonceng pintu, tanda pintu terbuka. (dwi)
Rafly Akbar, Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman.
Editor : Duito Susanto