Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Lubang Biopori, Solusi Cegah Banjir dengan Sampah Organik di Lingkungan

Dwi Puspitarini • Selasa, 9 Juli 2024 | 10:46 WIB
Ilustrasi lubang biopori yang kemudian diisi dengan sampah organik membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap dan menampung air hujan serta mencegah banjir.
Ilustrasi lubang biopori yang kemudian diisi dengan sampah organik membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap dan menampung air hujan serta mencegah banjir.

 

KALTIMPOST.ID, Curah hujan tinggi sering kali menjadi penyebab utama banjir, terutama di daerah yang tidak memiliki sistem drainase yang baik atau di mana tanah memiliki daya resap yang rendah, terutama di daerah perkotaan.

Mengelola curah hujan tinggi memerlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga penerapan teknik resapan air yang sederhana seperti lubang biopori.

Lubang biopori menyerupai lubang vertikal yang dibuat di dalam tanah. Saat hujan, air akan meresap ke dalam lubang biopori dan masuk ke dalam tanah dengan cepat.

Hal ini membantu mengurangi genangan air di permukaan tanah dan meminimalkan risiko banjir.

Lubang biopori adalah salah satu metode efektif dalam mengelola air, membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap dan menampung air hujan serta mencegah banjir.

Metode ini melibatkan cacing dan mikroorganisme lain di dalam tanah yang sebelumnya sudah diisi dengan bahan organik seperti daun-daun kering atau sisa makanan dapur.

Cacing dan mikroorganisme akan hidup dan berkembang biak di dalam lubang biopori dengan menguraikan sampah tersebut.

Manfaat yang didapatkan dengan membuat lubang biopori adalah:

  1. Meningkatkan Daya Resap Tanah

Lubang biopori dibuat dengan kedalaman sekitar 80-100 cm dan diameter sekitar 10-30 cm. Lubang ini diisi dengan bahan organik seperti daun kering, rumput, atau sampah organik lainnya.

Bahan organik ini akan membusuk dan membentuk rongga-rongga kecil yang meningkatkan porositas tanah, sehingga air hujan lebih mudah meresap ke dalam tanah.

Aktivitas cacing dan mikroorganisme lain membantu membuat lubang-lubang kecil dan pori-pori di dalam tanah, sehingga meningkatkan kapasitas tanah untuk menampung air.

Baca Juga: 6 Hal Penting yang Harus Dilakukan Orangtua ketika Telanjur Marah kepada Anak

  1. Mengurangi Limpasan Air

Dengan adanya lubang biopori, air hujan yang biasanya mengalir di permukaan tanah dan menyebabkan genangan atau banjir, akan lebih banyak yang terserap ke dalam tanah.

Ini membantu mengurangi volume air yang mengalir ke selokan atau saluran pembuangan yang seringkali tidak mampu menampung air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

  1. Menyimpan Air Tanah

Air yang terserap melalui lubang biopori, membantu mengisi kembali cadangan air tanah. Air yang meresap ke dalam lubang biopori akan masuk ke lapisan tanah yang lebih dalam tanah dan disimpan menjadi cadangan air saat musim kemarau.

Ini sangat bermanfaat terutama di daerah yang sering mengalami kekeringan, karena membantu menjaga ketersediaan air tanah.

  1. Memperbaiki Kualitas Tanah

Proses pembusukan bahan organik dalam lubang biopori menghasilkan humus yang meningkatkan kesuburan akar tanaman yang tumbuh di sekitar lubang biopori yang dapat membantu memperkuat struktur tanah.

Akar tanaman ini juga membantu meningkatkan drainase tanah dan mengurangi erosi tanah yang dapat memperparah banjir.

Tanah menjadi lebih gembur dan subur, yang baik untuk pertumbuhan tanaman.

  1. Mengurangi Limbah Organik

Lubang biopori dapat digunakan sebagai tempat pembuangan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan dapur, membantu mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Setelah beberapa minggu ditumpuk dalam lubang biopori, sampah organik yang sudah terurai menjadi kompos dapat diambil untuk dijadikan pupuk buat menyuburkan tanaman.

  1. Mengurangi Risiko Banjir

Dengan banyaknya air yang terserap ke dalam tanah, risiko banjir di daerah sekitarnya akan berkurang, terutama di daerah perkotaan dengan banyaknya permukaan keras seperti beton dan aspal.

Dengan meningkatkan resapan air, mengurangi limpasan, dan memperbaiki kualitas tanah, lubang biopori memberikan banyak manfaat lingkungan.

Langkah-Langkah Membuat Lubang Biopori

  1. Pilih lokasi yang strategis di halaman rumah, taman, atau area terbuka lainnya yang sering tergenang air, seperti di sekitar pohon, taman, pekarangan, dan jalan.
  2. Jarak antar-lubang biopori biasanya sekitar 3-5 meter, tergantung pada kondisi tanah dan kebutuhan.
  3. Gunakan bor tanah atau alat sejenis untuk membuat lubang dengan menancapkan atau mengebor pipa PVC diameter 10-30 cm di kedalaman sekitar 80-100 cm. Lubang-lubang ini berfungsi untuk meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah dan memperbaiki struktur tanah.
  4. Isi lubang dengan bahan organik seperti daun kering, rumput, dan sisa makanan. Hindari memasukkan bahan anorganik atau plastik.
  5. Lakukan perawatan secara berkala, tambahkan bahan organik baru ke dalam lubang untuk menjaga efektivitasnya. Pastikan lubang tidak tersumbat dan tetap berfungsi dengan baik.

Baca Juga: Menyegarkan dan Menantang, Berolahraga saat Hujan Efektif Mengurangi Kalori

Menerapkan teknik ini di rumah atau lingkungan sekitar dapat membantu mencegah banjir dan mendukung keberlanjutan ekosistem tanah.

Lubang biopori dapat dibuat dengan mudah dan murah di berbagai tempat, seperti di halaman rumah, sekolah, taman, dan area publik lainnya.

Banyak komunitas dan organisasi yang mengadakan pelatihan dan edukasi tentang pembuatan lubang biopori.

Dengan membuat lubang biopori di sekitar rumah atau lingkungan Anda, Anda dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam dan mencegah terjadinya bencana banjir. Lubang biopori membantu menyerap gas rumah kaca seperti CO2 dan metana dari atmosfer. (*)

 

Editor : Dwi Puspitarini
#resapan air #lubang biopori #banjir #gas rumah kaca #daya resap tanah #kualitas tanah #sampah organik #cacing dan mikroorganisme #curah hujan tinggi