KALTIMPOST.ID, Belakangan ini, fenomena doom spending semakin populer di kalangan milenial dan generasi Z.
Tren ini terjadi karena stres yang muncul akibat situasi ekonomi yang tidak menentu.
Dampaknya, perilaku belanja yang tidak terkendali ini membuat kedua generasi tersebut menghadapi masalah finansial yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Doom spending dapat diartikan sebagai kebiasaan belanja impulsif tanpa perhitungan matang.
Biasanya, tindakan ini dilakukan sebagai cara untuk meredakan stres atau khawatir terkait masa depan yang penuh ketidakpastian.
Bukannya memberikan kebahagiaan, kebiasaan ini justru menambah beban keuangan yang semakin menumpuk.
Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, banyak orang mencari pelarian dari tekanan hidup melalui belanja.
Hal ini terjadi karena mereka merasa belanja dapat membuat bahagia, meskipun sebenarnya hal itu berpotensi memperburuk kondisi keuangan.
Misalnya, seseorang mungkin merasa senang saat membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan, tetapi setelah itu, mereka merasa cemas melihat tagihan yang menumpuk.
Perilaku doom spending ini menciptakan siklus berbahaya. Bukannya bahagia karena sudah melampiaskan perasaan negatif, malah mereka merasa lebih stres ketika melihat keuangan yang makin menipis.
Hal ini membuat mereka semakin terjebak dalam lingkaran belanja impulsif yang tidak sehat.
Generasi Z dan milenial adalah kelompok yang paling rentan terhadap fenomena doom spending.
Kedua generasi ini dihadapkan pada tekanan ekonomi yang berat, seperti inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya menabung untuk masa depan belum lagi yang berperan sebagai sandwich generation (tumpuan keluarga).
Selain itu, budaya konsumtif yang berkembang di media sosial juga memicu mereka untuk terus berbelanja agar bisa mengikuti tren (FOMO/fear of missing out).
Baca Juga: Pakaian Putih Jadi seperti Baru: Belau Efektif Bersihkan Noda Membandel, tapi Kini Ditinggalkan
Banyak orang merasa sulit untuk mengendalikan keinginan belanja mereka. Hal ini disebabkan oleh perasaan cemas atau stres yang mendorong mereka mencari pelarian dalam bentuk barang-barang konsumsi.
Sebagian besar dari mereka sadar bahwa kebiasaan ini tidak baik, tetapi sulit untuk berhenti karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Salah satu dampak dari doom spending adalah penumpukan utang yang semakin membebani.
Ketika seseorang berbelanja di luar batas kemampuan mereka, utang kartu kredit atau pinjaman lainnya menjadi semakin besar.
Kondisi ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menimbulkan masalah emosional seperti rasa bersalah dan stres.
Baca Juga: Bye Mata Perih! 7 Cara Mengupas Bawang Merah dengan Cepat
Selain penumpukan utang, doom spending juga merusak tujuan finansial jangka panjang.
Ketika seseorang terus-terusan belanja tanpa kontrol, mereka sulit untuk menabung atau mencapai tujuan keuangan, seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun. Hal ini bisa berdampak buruk pada stabilitas keuangan di masa depan.
Untuk mengatasi masalah doom spending, penting untuk memahami hubungan seseorang dengan uang.
Menurut para ahli, cara kita berhubungan dengan uang sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil dan lingkungan keluarga.
Misalnya, jika seseorang tumbuh di lingkungan yang boros, mereka cenderung mengikuti pola yang sama ketika dewasa.
Memahami latar belakang emosional dari perilaku belanja dapat membantu seseorang untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Misalnya, seseorang dapat mencoba menahan keinginan untuk berbelanja impulsif dengan memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan.
Selain itu, membuat anggaran bulanan dan mencatat pengeluaran juga bisa menjadi solusi untuk mengendalikan doom spending.
Dengan cara ini, seseorang dapat melihat dengan jelas ke mana uang mereka pergi dan menahan diri dari pembelian yang tidak perlu.
Baca Juga: Jangan Sampai Kehabisan Uang saat Tua: Simak 10 Tips Cerdas Mengatur Keuangan untuk Masa Pensiun
Mencari dukungan dari teman atau keluarga juga bisa membantu mengatasi kebiasaan belanja impulsif.
Misalnya, seseorang bisa berbagi masalah keuangan mereka dengan orang terdekat agar mendapatkan dukungan emosional dan motivasi untuk mengubah kebiasaan belanja.
Doom spending bukanlah fenomena yang mudah diatasi, tetapi dengan kesadaran dan usaha, generasi milenial dan generasi Z dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih baik.
Mereka bisa mulai dengan langkah kecil, seperti mengurangi frekuensi belanja atau fokus pada tujuan finansial jangka panjang. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post
Editor : Dwi Puspitarini