KALTIMPOST.ID, "Jam koma" belakangan ini menjadi istilah yang marak di media sosial, khususnya TikTok dan X (dulu Twitter).
Istilah ini populer di kalangan Gen Z yang menggunakannya untuk menggambarkan kondisi kelelahan kognitif yang ekstrem.
Kondisi ini diakibatkan oleh tekanan rutinitas harian yang berat dan penuh tuntutan.
Kelelahan yang disebut sebagai "jam koma" ini mirip dengan kondisi brain fatigue atau kelelahan otak yang menyebabkan tubuh dan pikiran terasa "mati rasa."
Mereka yang mengalami jam koma biasanya merasa sangat lelah, sulit fokus, hingga mengalami kebingungan.
Dampaknya tak hanya fisik, tetapi juga pada kemampuan berpikir, konsentrasi, bahkan interaksi sosial sehari-hari.
Menurut psikolog, meskipun istilah "jam koma" tidak resmi diakui dalam dunia psikologi, kondisi ini serupa dengan fatigue atau kelelahan mendalam.
Terdapat dua jenis fatigue utama, yaitu mental fatigue yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, dan emotional fatigue yang memengaruhi emosi serta ekspresi.
Ciri-ciri Jam Koma pada Gen Z
Baca Juga: Desain Interior Rumah Minimalis Tanpa Sekat: Ciptakan Ruang Terbuka yang Nyaman
Kondisi "jam koma" yang dialami Gen Z dapat dikenali dari beberapa tanda, seperti kelelahan berlebihan, kehilangan semangat, dan sulit fokus.
Beberapa di antaranya bahkan mengalami kelelahan ekstrem yang membuat mereka sulit menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
Ini menunjukkan bahwa "jam koma" bukan sekadar lelah biasa, melainkan fase yang menurunkan produktivitas secara drastis.
Fenomena ini biasanya terjadi di malam hari, dari sore hingga dini hari, saat tubuh dan otak sebenarnya perlu istirahat.
Ahli menyebut bahwa otak perlu tidur nyenyak dari pukul 11 malam hingga 3 pagi untuk regenerasi. Melewati waktu ini akan berdampak pada kesehatan mental di hari berikutnya.
Baca Juga: Ayah Rumah Tangga, Tak Perlu Malu! Simak Alasan Peran Ini Keren dan Penting
Mengapa Gen Z Rawan Alami Brain Fatigue?
Menurut pakar kesehatan mental, faktor-faktor yang menyebabkan brain fatigue pada Gen Z beragam, mulai dari tekanan sosial, overthinking, hingga jam tidur yang kurang teratur.
Gen Z, yang dikenal sebagai generasi digital, sering terpapar radiasi gadget yang dapat memicu kelelahan otak lebih cepat.
Faktor lain yang memperparah kondisi "jam koma" adalah pola makan tidak sehat dan kurang tidur.
Mengonsumsi gula berlebihan atau makanan cepat saji membuat tubuh kurang nutrisi, yang mengakibatkan energi cepat habis.
Baca Juga: Desain Rumah Sesuai Gaya Hidup: Tren Interior 2025 yang Perlu Kamu Tahu
Bahaya Kesehatan dari Brain Fatigue
Kelelahan otak atau brain fatigue dapat menyebabkan dampak negatif pada kesehatan fisik. Saat kondisi psikologis terganggu, berbagai masalah fisik, seperti sakit kepala, sakit jantung, hingga gangguan pencernaan bisa muncul.
Jika dibiarkan, fatigue yang terus-menerus dapat menyebabkan burnout atau bahkan psikosomatis, yaitu gangguan fisik akibat stres yang berlebihan.
Cara Mencegah Jam Koma dan Brain Fatigue
Agar tidak terjebak dalam kondisi "jam koma," ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.
Pertama, buatlah jadwal produktif yang seimbang dengan waktu istirahat. Seperti saran pakar, luangkan waktu istirahat 10 menit setiap dua jam bekerja agar otak tidak dipaksa bekerja terus-menerus.
Mengelola stres juga penting untuk mencegah fatigue. Stres memang sulit dihindari, tetapi kemampuan untuk mengenali penyebab stres atau stressor bisa membantu.
Mengurangi ekspektasi yang tidak realistis dan memiliki support system dari lingkungan juga menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan mental.
Menerapkan pola makan sehat juga sangat penting untuk menghindari brain fatigue.
Konsumsi makanan bergizi, hindari gula dan kafein berlebihan, serta perbanyak buah dan sayur dapat membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.
Di sisi lain, tidur cukup di malam hari akan membantu otak beristirahat dan pulih dari aktivitas sehari-hari.
Penggunaan gadget yang berlebihan, apalagi sebelum tidur, juga dapat memicu kelelahan otak.
Mengurangi waktu penggunaan gadget sebelum tidur membantu otak untuk rileks dan terhindar dari overthinking yang berujung pada kelelahan kognitif. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel
Editor : Dwi Puspitarini