KALTIMPOST.ID, Jajanan asal China, Latiao, semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan remaja.
Meski telah dilarang beredar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena berbagai risiko kesehatan, daya tarik Latiao tetap tak terbendung.
Lalu, apa yang membuat jajanan berisiko ini tetap digemari oleh remaja?
Salah satu alasan utama di balik viralnya Latiao adalah kekuatan media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram banyak mempromosikan jajanan ini, sering kali tanpa memerhatikan kandungan dan risiko kesehatannya.
Di video-video tersebut, Latiao dipuji sebagai jajanan pedas dan unik yang "wajib dicoba," mendorong remaja untuk ikut mencobanya.
Tak hanya itu, rasa pedasnya yang kuat dan teksturnya yang kenyal memberikan sensasi makan yang menyenangkan bagi para penikmat jajanan pedas.
Selain itu, remaja yang memiliki rasa penasaran tinggi sering kali tergiur mencoba sesuatu yang baru dan sedang populer.
Menurut survei psikologis, remaja cenderung lebih terbuka terhadap tren baru dan memiliki dorongan sosial yang kuat untuk "menjadi bagian dari kelompok."
Jajanan viral seperti Latiao dianggap sebagai "simbol" bagi mereka untuk mengikuti tren yang sedang hangat dibicarakan.
Risiko Kesehatan di Balik Popularitas Latiao
Meski popularitasnya tak terbantahkan, Latiao mengandung risiko kesehatan yang cukup serius.
BPOM menemukan bahwa beberapa produk Latiao yang beredar di Indonesia mengandung zat berbahaya, termasuk pewarna sintetis yang tidak aman dan pengawet yang melampaui batas aman.
Konsumsi Latiao dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah pencernaan, alergi, bahkan gangguan kesehatan yang lebih serius.
Studi dari International Journal of Mental Health and Addiction mengungkapkan bahwa jajanan dengan kadar garam, pengawet, dan pewarna buatan yang tinggi dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, termasuk peningkatan risiko kecemasan dan stres.
Sayangnya, risiko ini jarang diketahui oleh para remaja, yang umumnya tidak terlalu memikirkan dampak kesehatan dari makanan ringan yang mereka konsumsi.
Baca Juga: Lelah Parah? Kenali Fenomena Jam Koma yang Sering Dialami Gen Z
Faktor Psikologis di Balik Konsumsi Jajanan Berisiko
Mengapa remaja tetap menggemari Latiao meskipun ada risiko? Menurut penelitian dalam bidang psikologi sosial, faktor-faktor seperti keinginan untuk meniru tren dan tekanan dari teman sebaya berperan besar.
Di era media sosial, remaja mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di layar ponsel. Tren makanan viral memberikan kepuasan sosial tersendiri, yang sering kali lebih kuat dibandingkan rasa takut akan risiko kesehatan.
Selain itu, remaja kerap mencari "sensasi baru" melalui makanan. Rasa pedas dan unik dari Latiao memberikan pengalaman makan yang berbeda dari jajanan lokal biasa.
Kebiasaan mencoba hal baru ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan bahwa remaja memiliki dorongan yang lebih tinggi untuk mencari pengalaman yang berbeda dan menantang. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel
Editor : Dwi Puspitarini