Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Fenomena Generasi Strawberry: Salah Siapa? Orang Tua, Sekolah, atau Lingkungan?

Dwi Puspitarini • Kamis, 21 November 2024 | 06:54 WIB

 

Ilustrasi. Generasi Strawberry sering dianggap sebagai generasi yang lemah, yang sebenarnya ada yang membentuk karakteristik mereka.
Ilustrasi. Generasi Strawberry sering dianggap sebagai generasi yang lemah, yang sebenarnya ada yang membentuk karakteristik mereka.

 

KALTIMPOST.ID, Generasi Strawberry, istilah yang populer untuk menggambarkan individu muda yang terlihat "indah dari luar tetapi rapuh di dalam," menjadi topik hangat.

Namun, apakah fenomena ini hanya kesalahan orang tua? Atau ada faktor lain yang membentuk mentalitas ini? 

Istilah ini pertama kali muncul di Taiwan untuk menggambarkan generasi muda yang mudah menyerah ketika menghadapi tekanan.

Seperti stroberi, mereka tampak menarik, tetapi mudah "hancur" jika ditekan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan generasi muda yang tumbuh di era serba mudah, jauh berbeda dengan generasi sebelumnya yang ditempa oleh tantangan keras hidup. 

 Baca Juga: Bingung Pilih Hampers Akhir Tahun? 6 Ide Unik yang Bikin Berkesan!

Faktor Penyebab Generasi Strawberry 

  1. Pola Asuh Orang Tua: Strawberry Parenting?

Sebagian ahli menyebutkan bahwa pola asuh yang terlalu memanjakan adalah faktor utama. Orang tua masa kini cenderung melindungi anak dari kesulitan. Akibatnya, anak-anak tidak terbiasa menghadapi tantangan. 

“Anak yang selalu diberi kenyamanan tanpa menghadapi kesulitan nyata akan tumbuh menjadi individu yang rapuh,” ujar Dr Mariana, psikolog keluarga. 

Namun, apakah ini sepenuhnya salah orang tua? Menurut Dr Mariana, orang tua sering kali hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, tanpa menyadari dampaknya. 

  1. Sistem Pendidikan yang Kurang Adaptif

Selain pola asuh, sistem pendidikan juga memegang peranan penting dalam fenomena ini. Banyak sekolah terlalu fokus pada nilai akademis, sehingga mengabaikan pengembangan keterampilan emosional dan mental siswa.

Andi Saputra, seorang pendidik, menyatakan bahwa anak-anak di sekolah sering kali tidak diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan atau mengelola emosi mereka.

Padahal, tantangan di dunia nyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mendapatkan nilai baik di sekolah.

Kurangnya pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter membuat generasi ini tidak siap menghadapi kenyataan hidup.

 Baca Juga: Mau Menaklukkan Hati Gen Z? Simak Kriteria Pasangan Idealnya!

  1. Lingkungan Sosial dan Teknologi

Lingkungan sosial dan teknologi juga menjadi faktor signifikan dalam membentuk generasi strawberry.

Kehidupan digital, khususnya media sosial, menciptakan tekanan besar bagi generasi muda untuk tampil sempurna.

Andi menambahkan bahwa paparan terus-menerus terhadap kehidupan "ideal" di media sosial sering kali membuat anak-anak merasa tidak cukup baik.

Hal ini tidak hanya memengaruhi rasa percaya diri mereka, tetapi juga membuat mereka semakin rentan terhadap stres dan tekanan sosial.

 Baca Juga: Generasi Strawberry: Potensi Besar atau Masalah Besar bagi Perusahaan?

Mengatasi Fenomena Generasi Strawberry

Namun, menyelesaikan fenomena ini bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Orang tua, sekolah, dan lingkungan sosial perlu bekerja sama untuk menciptakan generasi yang lebih tangguh.

Orang tua bisa mulai dengan memberikan ruang bagi anak-anak untuk membuat kesalahan dan belajar dari kegagalan.

Sementara itu, sekolah perlu mengadopsi kurikulum yang tidak hanya berfokus pada nilai akademis tetapi juga pada keterampilan emosional dan sosial.

Selain itu, lingkungan sosial harus mendukung generasi muda dengan menciptakan komunitas yang positif dan memberikan edukasi tentang penggunaan teknologi yang sehat.

 Baca Juga: Gak Perlu Mahal: Rekomendasi Sepatu Lari Lokal untuk Pemula, Bikin Betah Lari Setiap Hari!

Fenomena Generasi Strawberry terbentuk dari berbagai faktor yang saling berhubungan, mulai dari pola asuh, sistem pendidikan, hingga lingkungan sosial.

Alih-alih menyalahkan, langkah terbaik adalah mencari solusi bersama. Generasi muda memiliki potensi besar, tetapi mereka membutuhkan dukungan yang tepat untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Seperti yang disampaikan Dr. Mariana, “Kita semua punya peran. Masa depan generasi ini ada di tangan kita.”(*)

 

 Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel 

Editor : Dwi Puspitarini
#lingkungan sosial #Penyebab Generasi Strawberry #generasi muda #karakteristik #generasi strawberry #pola asuh #tantangan #sistem pendidikan #psikologi anak #fenomena