KALTIMPOST.ID, Hari Valentine yang dirayakan setiap 14 Februari identik dengan cinta dan kasih sayang.
Namun, di balik tradisi bunga dan cokelat, ada sejarah kelam yang jarang diketahui.
Nama "Valentine" berasal dari seorang pendeta di Roma pada abad ke-3 yang berani menentang Kaisar Claudius II.
Saat itu, Claudius melarang prajurit menikah, percaya bahwa laki-laki lajang lebih kuat di medan perang.
Baca Juga: Tumbuhan Pinggir Jalan Ini Ternyata Menyimpan Rahasia Turunkan Asam Urat Hingga 50 Persen!
Namun, Valentine diam-diam menikahkan pasangan muda hingga akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Sebelum dieksekusi, ia menulis surat perpisahan yang ditandatangani "Dari Valentine-mu"—asal mula tradisi kartu Valentine.
Jauh sebelum Valentine menjadi hari kasih sayang, Romawi kuno merayakan festival Lupercalia setiap 13–15 Februari.
Ritual ini melibatkan pengorbanan hewan dan pemukulan perempuan dengan kulit kambing untuk meningkatkan kesuburan.
Gereja akhirnya menghapus festival ini dan menggantinya dengan Hari Santo Valentine.
Baca Juga: Manfaat Tak Terduga Air Rebusan Seledri: Lebih dari Sekadar Pelengkap Masakan
Pada abad ke-18, orang-orang mulai bertukar surat cinta. Revolusi industri membuat kartu Valentine diproduksi massal, menjadikannya bisnis menguntungkan.
Kini, perayaan ini bernilai miliaran dolar, dengan penjualan bunga, cokelat, dan perhiasan melonjak setiap Februari.
Dari kisah tragis hingga perayaan modern, Hari Valentine terus berkembang. Tapi, apakah masih mencerminkan arti cinta yang sebenarnya? (*)
Editor : Dwi Puspitarini