Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Oleh-Oleh Tur Kaltim Post Group ke Beijing-Chongqing, Huawei dan Xiaomi Bikin Mobil, Tapi Tidak Bisa Jalan di Indonesia

Rikip Agustani • Minggu, 23 Februari 2025 | 22:15 WIB
KAWASAN ELITE: Suasana perempatan jalan di Wangfujing, Beijing. Di setiap sisi jalan tersaji mal dengan brand-brand internasional.
KAWASAN ELITE: Suasana perempatan jalan di Wangfujing, Beijing. Di setiap sisi jalan tersaji mal dengan brand-brand internasional.

KALTIMPOST.ID, BEIJING- Setelah mengunjungi Lapangan Tiananmen dan Forbidden City, rombongan Kaltim Post Group diajak berjalan kaki ke Wangfujing. Kawasan pusat perbelanjaan terbesar di Beijing, Tiongkok. Namun perlu diingat, kawasan ini bukan tempat untuk berbelanja oleh-oleh. Karena menawarkan harga yang premium. 

Berjalan kaki menjadi aktivitas yang biasa dilakukan masyarakat Tiongkok. Meskipun transportasi umumnya sudah sangat memadai. Seperti yang dilakukan rombongan Kaltim Post Group saat menelusuri objek wisata di pusat Kota Beijing, Tiongkok, 11 Februari lalu.

Mulai dari Lapangan Tiananmen menuju Forbidden City atau Kota Terlarang, semuanya ditempuh dengan berjalan kaki. Hingga akhirnya menuju Wangfujing yang merupakan kawasan pusat perbelanjaan di Distrik Dongcheng, jantung Kota Beijing.

“Wajar kalau hari ini langkah bapak-ibu bisa sampai 20 ribu-30 ribu. Karena semua tempat yang kita tuju dengan berjalan kaki,” ucap pemandu wisata tur Kaltim Post Group di Beijing, Yang Yang. Wangfujing merupakan lokasi terakhir dari tur hari pertama Kaltim Post Group di Beijing. Untuk menuju ke pusat perbelanjaan terbesar itu, rombongan Kaltim Post Group harus keluar dari pintu timur Forbidden City. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Pada kawasan ini berderet toko pada kiri-kanannya. Ada pula mal-mal besar yang menjual pakaian, pernak-pernik, barang elektronik, tekstil, mainan, hingga makanan dan minuman. Selain itu, ada juga toko dan butik merek internasional seperti Apple Store. Dan tak kalah, merek asli Tiongkok, seperti Huawei juga berada di kawasan pusat perbelanjaan ini. Sepanjang perjalanan, banyak pedagang menawarkan jajanan dan makanan asli Tiongkok lainnya.

Namun rombongan tak sempat menyisir kawasan ini. Apalagi sudah diwanti-wanti, apabila ingin membeli makanan. Karena tidak semua makanan halal tersedia di Tiongkok. Yang Yang menekankan bahwa di kawasan Wangfujing tidak menjual barang dengan harga yang murah.

Karena merupakan pusat perbelanjaan yang menawarkan barang dengan merek-merek internasional. Sehingga Wangfujing bukanlah tempat untuk membeli souvenir atau oleh-oleh. Tidak ada pasar yang menjual barang harga murah di kawasan ini. “Tempat ini, seperti mal dan plaza besar yang ada di Jakarta,” ujarnya.

Untuk merek-merek asli Tiongkok yang dijual di Wangfujing juga tidaklah murah. Seperti produk olahraga merek Li-Ning yang biasa digunakan pada cabang olahraga badminton. Dibanderol dengan harga  1.000 hingga 1.200 RMB (Renminbi). Di mana 1 RMB setara dengan Rp 2.300. Artinya kisaran harganya adalah Rp 2,3 juta hingga Rp 2,7 juta.

Ada pula perlengkapan olahraga yang mirip dengan merek internasional, Jordan. Yakni Qiaodan Sport yang sering digunakan pada olahraga basket. “Logonya pegang bola basket di samping. Kalau pegang bola basket ke atas itu mereknya, Jordan,” ungkapnya.

Di kawasan Wangfujing, banyak produk teknologi seperti Huawei dan Xiaomi yang juga memproduksi produk otomotif canggih. Banyak digunakan di Tiongkok. Seperti mobil autonomous atau tanpa sopir.

“Huawei dan Xiaomi sudah bikin mobil, Tapi tidak bisa jalan di Indonesia. Di Wangfujing ada toko Huawei besar sekali. Ada mobilnya, tinggal ngomong langsung jalan. Kalau sulit parkir, kita tutup pintu mobil jalan sendiri cari tempat parkir,” jelas Yang Yang. Dia menerangkan, pada musim dingin seperti saat kunjungan Kaltim Post Group, produk fashion yang ditawarkan di kawasan Wangfujing tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang beriklim tropis.

Selain harganya yang relatif mahal, semua baju yang dijual berukuran tebal. Khusus diperuntukkan digunakan musim dingin. “Bajunya tebal berisi kapas atau bulu angsa. Sehingga tidak bisa digunakan di Indonesia,” ungkap perempuan berusia 40 tahunan ini.

Setelah puas jalan-jalan menelusuri kawasan Wangfujing, rombongan Kaltim Post Group diajak untuk makan malam di restoran Old Beijing Mutton Hotpot. Lokasinya tak jauh dari kawasan mal di Wangfujing. Hidangan berkuah khas Tiongkok, menghangatkan tubuh di tengah cuaca dingin Beijing. “Kita makan steamboat ya bapak-ibu. Ada shabu-shabu, daging sapi, bakso, fish ball, sayur, dan bihun. Ini restoran biasa, tapi menunya enggak ada babi,” ungkapnya. (bersambung) 

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#beijing #forbidden city #Chongqing #Kaltim Post Group #jalan-jalan ke tiongkok #wangfujing street #Tiananmen China