Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Singapura Punya Bank Otak Pertama di Asia Tenggara, Harapan Baru Lawan Penyakit Degeneratif

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 9 April 2025 | 20:59 WIB
INOVATIF: Singapura miliki Bank Otak, resmi dibuka pada 2019 dan kini sudah ada 420 orang yang menyatakan kesediaannya untuk menyumbang otak mereka setelah meninggal dunia.
INOVATIF: Singapura miliki Bank Otak, resmi dibuka pada 2019 dan kini sudah ada 420 orang yang menyatakan kesediaannya untuk menyumbang otak mereka setelah meninggal dunia.

KALTIMPOST.ID – Kabar inovatif datang dari Negeri Singa. Berlokasi di NTU Lee Kong Chian School of Medicine, berdiri megah Brain Bank Singapore (BBS), sebuah pusat riset otak yang menjadi pionir di kawasan Asia Tenggara.

Tujuan mulia dari fasilitas ini adalah mengumpulkan dan mengawetkan jaringan otak manusia pasca-mortem dengan kualitas optimal. Jaringan berharga ini nantinya akan digunakan dalam berbagai studi penelitian ilmiah yang telah mendapatkan lampu hijau dari komite etik.

Salah satu warga Singapura, Lau Kan How, menjadi contoh nyata semangat kemanusiaan. Pria yang didiagnosis penyakit moyamoya ini dengan tulus hati mendaftarkan diri pada Mei 2024 untuk mendonorkan otaknya ke BBS setelah ia menghembuskan napas terakhir.

"Mempelajari otak saya bisa membantu para dokter memahami bagaimana saya tetap bisa berfungsi dengan baik selama ini. Selain itu, ini juga kontribusi kecil saya untuk memajukan penelitian tentang penyakit moyamoya, menemukan penyebab dan pengobatannya. Harapannya, mereka yang menderita penyakit ini bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik, lebih murah, dan lebih efektif," ujar Lau kepada Strait Times, seperti dikutip pada Rabu (9/4/2025).

Fasilitas canggih ini resmi dibuka pada 27 November 2019. Hingga kini, sekitar 420 orang telah menyatakan kesediaannya untuk menyumbangkan otak mereka setelah meninggal dunia. BBS juga telah berhasil mengumpulkan 11 otak dan tujuh sumsum tulang belakang yang kini menjadi aset berharga untuk keperluan riset.

Fokus utama pusat riset ini adalah untuk memahami lebih dalam berbagai kondisi yang menyerang otak, seperti penyakit Parkinson dan Alzheimer. Meskipun Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia, populasi di sana juga menua dengan pesat. Mengingat penyakit neurodegeneratif lebih umum menyerang kelompok usia lanjut, diperkirakan insiden dan prevalensi kondisi tersebut akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya populasi lansia.

"Pemahaman kita tentang penyakit-penyakit ini masih terbatas karena kita tidak bisa mengambil sampel jaringan otak dan mempelajarinya secara mendalam pada pasien yang masih hidup," jelas Dr. Yeo Tianrong, wakil direktur BBS yang juga merupakan konsultan senior di Departemen Neurologi, National Neuroscience Institute.

Namun, secercah harapan muncul seiring dengan kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi canggih ini memberdayakan para peneliti untuk memeriksa otak dengan detail yang luar biasa.

Pemahaman yang lebih mendalam tentang jalur biologis di otak diharapkan dapat membantu para ilmuwan merumuskan terapi yang efektif untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut pada sel-sel otak, dan bahkan dalam beberapa kasus, memperbaiki komponen seluler yang telah rusak.

Dengan ketersediaan lebih banyak sampel otak dan sumsum tulang belakang, penelitian dengan skala yang lebih besar dapat direncanakan. Lebih jauh lagi, permintaan jaringan dari dalam negeri maupun internasional akan memungkinkan lebih banyak peneliti untuk mempelajari seluk-beluk penyakit neurologis ini.

Kendati demikian, tantangan tetap ada. Pemahaman publik yang masih terbatas tentang donasi otak dan betapa pentingnya hal tersebut untuk kemajuan ilmu pengetahuan menjadi salah satu kendala utama dalam meningkatkan jumlah donor.

Tak jarang, orang merasa ragu untuk mendonorkan otak karena pertimbangan budaya atau agama terkait proses pemakaman atau kremasi tanpa organ vital tersebut. Namun, dengan adanya BBS, diharapkan kesadaran akan pentingnya donasi otak untuk kemanusiaan dan ilmu pengetahuan akan semakin meningkat. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#penyakit degeneratif #bank otak #otak